Kamis, 07 November 2013

Kajian Stilistika pada Novel Ayat-ayat Cinta Karya Habiburahman El Shirazy
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Karya sastra merupakan sebuah karya yang pada hakikatnya dibuat dengan mengedepankan aspek keindahan di samping keefektifan penyampaian pesan. Aspek keindahan tersebut sengaja dibentuk oleh pengarang dengan memanfaatkan potensi bahasa yang digali dari kekayaan bahasa setempat. Aspek keindahan itu juga yang digunakan oleh pengarang agar dapat memberikan daya tarik kepada suatu karya sastra sehingga mampu memikat pembacanya. Ciri khas pengarang yang menjadi daya tarik dari suatu karya dapat dikaji dengan kajian stilistika.
Stilistika merupakan kajian terhadap wujud performasi kebahasaan atau struktur lahir kebahasaan, khususnya yang terdapat dalam karya sastra. Studi tentang stile tersebut sebenarnya dapat digunakan dalam berbagai penggunaan ragam bahasa, tidak dibatasi pada ragam bahasa sastra saja. Namun, ada kecenderungan analisis stilistika lebih sering digunakan dalam ragam bahasa sastra yang bertujuan untuk menemukan unsur keindahan yang terdapat dalam karya sastra yang akan dikaji. Maksudnya analisis stilistik bertujuan untuk menerangkan sesuatu, pada umumnya dalam karya sastra untuk menerangkan hubungan antara bahasa dengan fungsi artistik dan maknanya
Analisis stilistik ini menjadi sangat penting, karena dapat memberikan informsasi tentang karakteristik khusus sebuah karya sastra. Untuk memperoleh informasi tentang karakteristik khusus sebuah karya sastra, kita harus menganalisis tanda-tanda stilistika yang ada dalam karya sastra. Tanda-tanda stilistika tersebut dapat berupa unsur fonologi, leksikal, gramatikal, sintaksis, dan penggunanan bahasa figuratif (figurative language), wujud pencitaan (imagery) dalam sebuah karya sastra.
Dalam kajian ini, saya berusaha melakukan anslisis stilistika novel karya Habiburrahman El Shirazy yang berjudul “Ayat-ayat Cinta” (Gadis Mesir itu Bernama Maria). Analisis stilistika pada novel “Ayat-ayat Cinta” pada bab ini dimaksudkan untuk menerangkan hubungan antara bahasa dengan fungsi artistik dan maknanya.
BAB II
KAJIAN TEORI
Stilistika merupakan ilmu yang mempelajari tentang stile. Stile adalah cara pengucapan bahasa dalam prosa atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu hal yang akan dikemukakan (Abrams lewat Nurgiyantoro, 1994: 276). Stile atau gaya bahasa merupakan cara ekspresi kebahasaan oleh pengarang. Pradopo (1994) menyebutkan bahwa gaya bahasa adalah bagaimana seorang penulis berkata mengenai apapun yang dikatakannya. Dengan kata lain bahasa merupakan penggunaan bahasa atau cara bertutur secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu, baik efek estetis atau efek puitis.
Analisis stilistika merupakan sebuah metode analisis karya sastra. Analisis karya sastra ini bertujuan untuk menggantikan kritik yang sifatnya subjektif dan impresif dengan analisis stile yang sifatnya obyektif dan ilmiah. Untuk memperoleh bukti-bukti konkret stile pada sebuah karya sastra, harus dikaji tanda-tanda yang terdapat dalam sebuah sruktur lahir suatu karya sastra. Kajian stile dilakukan dengan menganalisis unsur-unsur stile dalam karya sastra untuk mengetahui konstruksi masing-masing unsur untuk mencapai efek keindahan (estetis) dan unsur yang dominan dalam karya sastra tersebut.
Abrams dalam Nurgiyantoro (1994: 289) mengemukakan bahwa unsur stile (stylistic feature) terdiri dari unsur fonologi, unsur sintaksis, unsur leksikal, unsur retorikal (rhetorical berupa karakteristik penggunaan bahasa figuratif, pencintraan, dan sebagainya). Sementara itu, Leech dan Short Nurgiyantoro (1994: 289) mengemukakan bahwa unsur stile (stylistics categories) terdiri dari unsur atau kategori leksikal, gramatikal, figures of speech, konteks, dan kohesi. Unsur stile dengan menggabungkan pembagian unsur stile menurut Abrams dan pembagian unsur stile menurut Leech dan Short tanpa memasukkan unsur fonologis Abrams, karena unsur-unsur tersebut dianggap tidak banyak memberikan kontribusi dalam stilistika fiksi.
A.    UNSUR LEKSIKAL
Unsur leksikal dalam stilistika fiksi ini mempunyai pengertian yang sama dengan diksi. Diksi merupakan sesuatu yang mengacu pada pengertian penggunaan kata-kata tertentu yang sengaja dipilih oleh pengarang dalam karya yang diciptakan. Pemilihan kata-kata tersebut harus melewati pertimbangan-pertimbangan tertentu yang dimaksudkan untuk mendapatkan efek estetis (keindahan). Ketepatan kata-kata tersebut dapat dipertimbangkan dari segi bentuk dan makna atau isi. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah diksi tersebut mampu mendukung efek estetis dari karya itu sendiri, mampu mengkomunikasikan makna, pesan, dan gagasan pengarang.
Menurut Chapman lewat Nurgiantoro (2005: 290), pemilihan kata dapat melalui pertimbangan-pertimbangan formal tertentu yaitu pertimbangan fonologis, pertimbangan mode, pertimbangan masalah sintagmatik, pertimbangan masalah paradigmatik, dan identifikasi jenis kata. Setelah identifikasi selesai dilakukan masing-masing bentuk dan makna yang muncul dihitung untuk menentukan jumlah frekuensi masing-masing.
Pertimbangan fonologis biasanya terdapat dalam karya sastra yang berwujud puisi. Pertimbangan fonologis digunakan untuk kepentingan aliterasi, irama, dan efek bunyi tertentu. Dalam karya fiksi, unsur fonologi juga dipertimbangkan walaupun tidak seintensif karya sastra yang berbentuk puisi.
Pertimjbangan dari segi mode, bentuk, dan makna dimaksudkan sebagai media memusatkan atau mengkonsentrasikan gagasan. Masalah pemusatan gagasan sangat penting, karena hal inilah yang membedakan bahasa sastra dengan bahasa nonsastra. Penggunaan diksi dalam karya sastra dapat menggunakan ragam bahasa koloqial (keseharian) selama mampu mewakili gagasan yang ditawarkan oleh sipengarang.
Pertimbangan sintagmatik mengacu pada hubungan antarkata secara linier untuk membentuk sebuah kalimat. Bentuk-bentuk kalimat yang disusun oleh seorang pengarang, baik berupa kalimat sederhana, kompleks, unik, dan jenis kalimat lainnya akan mempengaruhi kata, khususnya bentuk kata.
Pertimbangan paradigmatik mengacu pada diksi atau pilihan kata di antara sejumlah kata yang memilki hubungan makna. Pengarang harus mampu memilih kata-kata yang konotasinya paling tepat untuk mengungkapkan gagasan sehingga pengarang mampu mencapai efek yang diinginkan.
Identifikasi jenis kata sangat diperlukan dalam analisis leksikal sebuah karya fiksi. Kita dapat mengidentifikasi jenis kata dengan menganalisis kata yang dipergunakan sederhana atau kompleks, kata formal atau koloqial, kata yang berkaitan dengan bahasa lain atau tidak, dan kata yang berkaitan dengan arah makna yang dituju. Selain itu, kita juga harus mempertimbangkan jenis kata seperti kata benda, kata kerja, kata sifat, kata bilangan, dan kata tugas yang diikuti oleh pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang sesuai dengan jenis kata yang bersangkutan.
B.     UNSUR GRAMATIKAL
Unsur gramatikal pada kajian stilistika mengacu pada pengertian struktur kalimat. Menurut Nurgiyantoro (2005: 292), bahwa dalam kegiatan komunikasi bahasa juga jika dilihat dari kepentingan stile, kalimat lebih penting dan bermakna dari pada sekedar kata meskipun gaya kalimat dalam banyak hal juga dipengaruhi oleh pilihan katanya (diksi). Sebuah gagasan atau amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang dapat menggunakan berbagai kalimat yang berbeda-beda struktur dan kosa katanya. Jadi, penyampaian isi yang sama dapat diungkapkan dengan bentuk yang berbeda-beda.
Setiap pengarang mempunyai kebebasan penuh dalam mengkreasikan bahasa. Oleh karena itu, unsur deviasi atau penyimpangan dalam bahasa sastra menjadi suatu hal yang wajar. Seperti yang diungkapkan oleh Chapman lewat Nurgiyantoro (2005: 293), secara teoritis jumlah kata yang berhubungan secara sintagmatik dalam sebuah kalimat tak terbatas, dapat berapa saja sehingga mungkin panjang sekali. Secara formal tak ada batas berapa jumlah kata yang seharusnya dalam sebuah kalimat.
Deviasi atau penyimpangan struktur kalimat dalam karya sastra dapat berupa pembalikan, pemendekan, pengulangan, penghilangan unsur tertentu, dan lain-lain. Penyimpangan struktur kalimat dimaksudkan untuk memperoleh kesan estetis dan sebagai sarana utnuk menekankan pesan tertentu. Menurut Nurgiyantoro (2005: 293), hal seperti di atas dikenal sebagai pengendapan atau foregrounding yang dianggap oleh sebagian orang sebagai salah satu bahasa sastra. Kegiatan analisis penyimpangan kalimat, dapat berupa kompleksitas kalimat, jenis kalimat, jenis klausa, dan frasa.
a). Kompleksitas Kalimat
Kompleksitas kalimat mengacu pada jenis kalimat sederhana atau kalimat kompleks yang digunakan oleh pengarang dalam karyanya. Bagaimanakah keadaaan secara keseluruhan? Berapa rata-rata jumlah kata per kalimat? Bagaimanakah variasi penampilan struktur kalimat sederhana dan kalimat kompleks yang digunakan? Dalam kalimat kompleks, hubungan apakah ynag menonjol, koordinatif, subordinatif, ataukah parataksis?

b). Jenis Kalimat
Jenis kalimat dapat berupa kalimat deklinatif, kalimat imperatif, kalimat interogatif, atau kalimat minor? Jenis kalimat manakah yang menonjol dan apa fungsinya? Pembedaan jenis kalimat ini juga dapat berupa kalimat aktif pasif, nominal verbal, langsung tak langsung, dan sebagainya.
c). Jenis Klausa dan Frasa
Jenis klausa dan frasa dapat mengacu pada klausa dan frasa apa sajakah yang menonjol, sederhana ataukah kompleks? Jenis klausa dan frasa dapat diambil yang jumlahnya dominan. Pembatasan tersebut misalnya, untuk klausa dibatasi pada klausa adverbial, kondisional, dan temporal.
Dalam analisis struktur kalimat karya fiksi perlu diperhatikan apakah penggunaan struktur kalimat yang dominan mempunyai efek tertentu bagi karya yang bersangkutan atau tidak. Apakah penggunaan struktur kalimat tersebut lebih tepat apabila dibandingkan dengan struktur kalimat yang lain? Apakah struktur kalimat itu lebih memperjelas makna ynag ingin disampaikan? Apakah ada penekanan makna dan sebagainya?
C.     RETORIKA
Retorika merupakan suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis. Retorika dapat diperoleh melalui kreatifitas pengarang dalam mengungkapkan bahasa sebagai media pengarang untuk menyampaikan gagasan. Sebenarnya, retorika berkaitan dengan pendayagunaan semua unsur bahasa, baik yang menyangkut masalah pilihan kata dan ungkapan, struktur kalimat, segmentasi, penyusunan, penggunaan bahasa kias, pemanfaatan bentuk citraan, dan lain-lain yang semuanya disesuaikan dengan situasi dan tujuan penuturan.
Menurut Keraf (1980:1), retorika adalah suatu istilah yang secara tradisional diberikan pada suatu cara pemakaian bahasa sebagai seni yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang disusun baik. Oleh karena itu retorika harus dipelajari oleh orang-orang yang ingin mrnggunakan bahasa sebaik-baiknya untuk tujuan tertentu baik dalam karya sastra maupun karya nonsastra, pembicaraan formal, dan lain-lain. Retorika sendiri bertujuan menerangkan kaidah-kaidah yang menjadi landasan dari tulisan yang bersifat prosa atau wacana lisan yang berbentuk pidato atau ceramah, untuk mempengaruhi sikap dan perasaan orang. Untuk mencapai tujuan tersebut, retorika dapat menggunakan unsur yang bertalian dengan kaidah-kaidah keefektifan dan keidahan gaya bahasa, misalnya ketepatan pengungkapan, keefektifan struktur kalimat, penggunaan bahasa kiasan yang serasi, penampilan yang sesuai dengan situasi, dan sebagainya. Secara singkat retorika membicarakan dasar-dasar yang fundamental untuk menyusun sebuah wacana baik sastra maupun non sastra yang efektif.
Menurut Abrams lewat Nurgiyantoro (2005: 296), unsur stile yang berwujud retorika meliputi pemakaian bahasa figuratif (figurative language) dan wujud pencitraan (imagery). Bahasa figuratif itu sendiri dapat dibedakan menjadi (1) figures of though atau tropes, dan (2) figures of speech, rhetorical figures, atau schemes.
Figures of thought atau tropes mengacu pada penggunaan unsur kebahasaan yang menyimpang dari makna harfiah dan lebih mengacu pada makna literal atau literal meaning. Secara singkat figures of thought mempersoalkan pemajasan. Sementara itu, figures of speech, rhetorical figures, atau schemes mengacu pada pengurutan kata, masalah permainan struktur. Jadi, rhetorical figures di sini menekankan pada cara penstrukturan atau bisa disebut sebagai cara penyiasatan struktur. Penyiasatan struktur merupakan suatu warisan retorika klasik yang sering dianggap oleh orang awam sebagai “satu-satunya” gaya bahasa. Berikut ini merupakan unsur retorika
1). Pemajasan
Pemajasan merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggayabahasaan, yang maknanya tidak menunjuk pada makna harfiah kata atau kata yang mendukungnya, melainkan pada makna yang ditambahkan, makna yang tersirat. Jadi, pemajasan merupakan gaya yang sengaja memanfaatkan penuturan dengan menggunakan bahasa kias Menurut (Nurgiyantoro, 2005: 296). Dalam pemajasan ini, masih ada hubungan makna antara bentuk harfiah dengan makna kiasnya. Akan tetapi, hubungan tersebut bersifat tidak langsung yang membutuhkan penafsiran pembaca. Jadi, penggunaan bahasa dalam kesusastraan merupakan salah satu bentuk penyimpangan makna.
Berdasarkan langsung tidaknya makna yang terkandung dalam sebuah kata, frasa, atau klausa. Keraf (1981: 114) membagi gaya bahasa menjadi dua bagian yaitu gaya langsung atau gaya retoris (rhetorical figures) dan bahsa kiasan (tropes). Untuk mendapatkan efek estetis yang diharapkan gaya retoris dan bahasa kiasan tersebut harus tepat dalam penggunaannya, gaya bahasa tersebut harus mampu mengarahkan interpretasi pembaca yang kaya dengan asosiasi-asosiasi, di samping juga dapat mendukung terciptanya suasana dan nada tertentu.
a)      Gaya Bahasa Retoris
Gaya bahasa retoris merupakna gaya bahasa yang mengacu pada makna yang diartikan menurut nilai lahirnya. Oleh karena itu, tidak akan menemui kesulitan dalam pemakaian selama diksinya tepat. Berikut ini merupakan bentuk-bentuk dari bahasa retoris
·        Aliterasi
Aliterasi merupakan gaya bahasa yang memakai kata-kata yang dimulai dengan konsonan yang sama. Biasanya digunakan dalam karya sastra berbentuk puisi. Contoh: Takut titik lalu tumpah
·        Anastrof
Anastrof merupakan inversi atau pembalikan susunan kata-kata dalam sebuah kalimat, berbeda dari susunan biasa. Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat perangainya.
·        Apostrof
Apostrof merupakan gaya bahasa yang berbentuk sebuah amanat yang disampaikan kepada sesuatu yang tidak hadir. Makna apostrof adalah berpaling atau berputar. Sesuatu yang tidak hadir dimaksudkan kepada mereka yang sudah meninggal, atau kepada barang atau obyek khayalan atau abstrak.
·        Inuendo
Inuendo merupakan sindiran dengan mengecilkan kenyatan yang sebenarnya. Inuendo menyatakan kritik dengan sugesti yang tidak langsung dan sering tampak tidak menyakitkan hati pada mulanya.
·        Perifrasis
Perifrasis merupakan gaya atau acuan untuk menyatakan maksud secara tidak langsung atau dapat dikatakan suatu cara yang abstrak untuk mengungkapkan suatu maksud.
·        Pleonasme atau tautologi
Pleonasme atau tautalogi merupakan acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan.
·         Prolepsis
Prolepsis atau antisipasi adalah semacam gaya bahasa di mana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebelumnya terjadi.
·         Pertanyaan retoris
Pertanyaan retoris adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pembicaraan atau penulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang baik dan penekanan yang wajar, dan tidak menghendaki suatu jawaban.
·         Silepsis dan Zeugma
Silepsis atau zeugna adalah gaya di mana orang mempergunakan sepatah kata dalam hubungannya dengan dua kata atau lebih yang disangka sama tapi sebenarnya tidak.
·         Apofais
Apofais merupakan gaya bahasa di mana pengarang menegaskan sesuatu tapi tampak menyangkalnya. Contoh: Jika saya tidak menyadari reputasimu dalam kejujuran, maka sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa anda pasti membiarkan anda menipu diri sendiri. Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini, bahwa saudara telah menggelapkan uang ratusan juta rupiah uang negara.
·         Asindeton
Asindenton merupakan gaya bahasa yang bersifat padat dan mampat di mana beberapa kata yang sederajat berurutan, atau klausa-klausa yang sederajat, tidak dihubungkan dengan kata sambung.
·         Kiasmus (Chiasmus)
Kiasmus adalah semacam acuan atau gaya bahasa yang mengandung dua bagian, baik frasa atau klausa, yang sifatnya berimbang yang dipertentangan satu sama lain, tetapi susunan frasa atau klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frasa, klausa, atau lainnya.
·         Elipsis
Elipsis merupakan gaya bahasa dengan menghilangkan satu kata atau lebih yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendengar, sehingga struktur gramatikalnya memenuhi pola yang berlaku.
·         Eufemismus
Eufemismus merupakan acuan berupa ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaan orang, atau ungkapan-ungkapan yang halus untuk mengantikan acuan-acuan yang mungkin dirasakan menghina, menyinggung perasaan, atau mensugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan.
·         Histeron Portenon
Histeron portenon merupakan gaya bahasa kebalikan dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari urutan yang wajar, misalnya menempatkan sesuatu yang terakhir pada awal.
·         Ironi
Ironi atau sindiran merupakan semacam acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud yang berlainan daripada yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya itu.
·         Litotes
Litotes merupakan gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri.
Ø  Gaya Bahasa Kiasan
Gaya bahasa kiasan adalah gaya bahasa yang dilihat dari segi makna dan tidak dapat ditafsirkan sesuai dengan kata-kata yang membentuknya.
·         Persamaan atau simile
Persamaan atau simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Perbandingan yang bersifat eksplisit ini dimaksudkan bahwa ia langsung menyatakan sesuatu yang sama dengan hal yang lain dan menggunakan kata-kata seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, dsb.
·         Personifikasi
Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan.
·         Alusi
Alusi adalah semacam acuan yang berusaha untuk mensugestikan kesamaan antara orang, tempat, atau, peristiwa. Contoh: Bandung adalah paris jawa.
·         Metonimia
Metonimia merupakan gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain karena mempunyai pertalian yang sangat erat.
·         Metafora
Metafora adalah perbandingan yang tanpa menggunakan kata-kata: bagaikan, seperti, laksana, dsb. Jadi, pokok yang pertama langsung dihubungkan dengan pokok yang kedua. Contoh: pemuda adalah bunga bangsa.
·         Sinekdoke
Sinekdoke merupakan bahasa figuratif yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian (totum pro parte).
·         Eponim
Eponim adalah suatu gaya di mana seseorang yang namanya begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu, misalnya hercules untuk menyatakan kekuatan.
·         Epilet
Epilet adalah acuan yang berwujud sebuah frasa deskriptif yang menjelaskan atau menggantikan nama seseorang atau suatu barang. Contoh: lonceng pagi untuk ayam jantan.
·         Pun atau paranomasia
Pun atau paranomasia adalah permainan kata-kata yang didasarkan pada kemiripan bunyi, tetapi terdapat perbedaan besar dalam maknanya. Contoh: tanggal dua gigi saya tanggal dua.
·         Hiperbol
Hiperbol merupakan gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan dengan membesar-besarkan segala sesuatu.
·         Paradoks
Paradoks merupakan gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada.
·         Oksimoron
Oksimoron adalah suatu acuan yang berusaha menggabungkan kata-kata untuk mencapai objek yang bertentangan.
·         Hipalse
Hipalse merupakan semacam gaya bahasa di mana sebuah kata tertentu digunakan untuk menerangkan sebuah kata yang seharusnya dikenakan pada sebuah kata lain.
2). Penyiasatan Struktur
Pencapaian efek estetis yang diharapkan dipengaruhi oleh bangunan struktur kalimat secara keseluruhan bukan semata-mata oleh gaya bahasa tertentu. Namun dari keseluruhan unsur tertentu ada struktur yang menonjol yang mampu menghadirkan kesan yang berbeda.
Dalam sebuah karya fiksi, pendayagunaan struktur kalimat pun menghasilkan suatu bentuk stile yang lain. Pertama menekankan pengungkapkan melalui penyiasatan makna dan yang kedua melalui penyiasatan struktur. Dalam pencapaian efek retoris, peranan penyiasatan struktur (rhetorical figures/figure of speech) lebih menonjol dari pemajasan. Namun keduanya bisa digabungkan untuk memperoleh suatu yang lebih segar. Dengan demikian, sebuah kalimat penuturan dapat saja mengandung gaya pemajasan dan gaya penyiasatan struktur. Ada banyak hal yang biasa digunakan dalam penyiasatan struktur diantaranya repetisi, paralelisme, anafora, polisindenton, asindenton, antitesis, aliterasi, klimaks, antiklimaks, dan pertanyaan retoris.
Repetisi dan anafora adalah dua bentuk gaya pengulangan dengan menampilkan pengulangan kata atau kelompok kata yang sama. Kata atau kelompok kata yang diulang bisa terdapat dalam satu kalimat atau lebih dan berada pada posisi awal, tengah, ataupun akhir. Sementara itu, anafora menampilkan pengulangan kata pada awal beberapa kalimat yang berurutan.
Di pihak lain, paralelisme mengacu pada penggunaan bagian-bagian kalimat yang mempunyai kesamaan struktur gramatikal (dan menduduki fungsi yang sama pula) secara berurutan. Bentuk-bentuk gramatikal yang paralel dapat berupa struktur kata, frasa, kalimat, ataupun alinea. Di samping paralelisme, ada gaya lain yang menggunakan unsur paralelisme dan dimaksudkan untuk menyampaikan gagasan yang bertentangan. Bentuk gaya bahasa tersebut disebut antitesis.
Bentuk gaya pengulangan yang lain adalah polisendenton dan asindenton. Polisindenton berupa penggunaan kata tugas tertentu, misalnya kata “dan”, sedangkan asidenton yaitu pengulangan yang menggunakan pungtuasi yang berupa tanda koma. Selain itu ada penggunaan aliterasi, aliterasi adalah penggunaan kata-kata yang sengaja dipilih karena memiliki kesamaan fonem konsonan, baik yang berada di awal maupun di tengah kata.
Gaya klimaks dan antiklimaks bertujuan untuk mengungkapkan dan menekankan gagasan dengan cara menampilkannya secara berurutan. Pada gaya klimaks, urutan tersebut menunjukan semakin meningkatnya kadar pentingnya gagasan itu. Sementara itu, antiklimaks menunjukan semakin merendahnya kadar gagasan tersebut.
Pertanyaan retoris merupakan gaya yang menekankan atau mengungkapkannya dengan menampilkan semacam pertanyaan yang tak menghendaki atau tak membutuhkan jawaban. Pertanyaan retoris dianggap hanya memiliki satu jawaban dan pembaca dianggap telah mengerti apa jawaban dari pertanyaan yang diajukan.
3). Pencitraan
Dalam dunia kesusastraan dikenal istilah citra (image) dan pencitraan (imagery) yang keduanya mengacu pada reproduksi mental. Citra adalah gambaran pengalaman indra yang diungkapkan lewat kata-kata, gambaran berbagai pengalaman sensoris yang diangkat oleh kata-kata. Sementara itu, pencitraan merupakan kumpulan citra, the collection of image, yang dipergunakan untuk melukiskan objek dan kualitas tanggapan indra yang dipergunakan dalam karya sastra, baik dengan deskripsi secara harfiah maupun secara kias (Abrams lewat Nurgiyantoro, 2005 : 304). Menurut Pradopo (1987: 79), gambaran-gambaran angan dalam sajak disebut citraan. Citraan tersebut khususnya di dalam puisi yang bertujuan untuk memberi gambaran yang jelas, memberi suasana yang khusus, dan membuat lebih hidup gambaran yang diungkapkan dalam pikiran atau karya tersebut. Selain itu, citraan juga digunakan untuk menarik perhatiaan pembaca pada karya sastra khususnya puisi. Pencitraan terdiri dari lima bentuk yaitu citraan penglihatan (visual), pendengaran (auditoris), gerakan (kinestetik), rabaan (taktik termal), dan penciuman (olfaktori). Akan tetapi, kelima pencitraan tersebut berbeda intensitas pemanfaatannya dalam karya sastra.
Bentuk pencitraan dalam karya sastra tidak mutlak secara harfiah. Akan tetapi bentuk pencitraan yang muncul dalam karya sastra dapat juga bersifat kiasan, misalnya yang berupa perbandingan-perbandingan. Dengan demikain, bentuk atau gaya pencitraan dapat muncul sekaligus lewat kalimat dengan gaya pemajasan, dan keduanya pun dapat bergabung dalam satu kalimat dengan gaya penyiasatan struktur.
D.    KOHESI
Dalam setiap karya sastra, antara bagian kalimat yang satu dengan bagian yang lain mempunyai hubungan yang bersifat mengaitkan antar bagian kalimat atau antar kalimat itu. Antar unsur dalam suatu karya sastra tersebut dihubungkan oleh unsur semantik. Menurut Halliday dan Hasan via Nurgyiantoro (1994: 306), hubungan semantik merupakan bentuk hubungan yang esensial dalam kohesi yang mengaitkan makna-makna dalam sebuah teks. Hubungan kohesi tersebut dapat berupa hubungan implisit dan eksplisit. Hubungan yang sifatnya eksplisit ditandai dengan kata hubung atau kata-kata tertentu yang sifatnya menghubungkan. Sementara itu, hubungan yang sifatnya implisit hanya berupa hubungan kelogisan, hubungan yang disimpulkan sendiri oleh pembaca (infered connection). Pengungkapan hubungan secara implisit dan eksplisit tersebut perlu penyiasatan.
Hubungan antar unsur dalam suatu teks fiksi pada dasarnya merupakan hubungan makna dan referensi, namun orang cenderung melihatnya dari segi sarana formal sebagai penanda hubungannya. Hubungan antar unsur dalam karya fiksi dapat diwujudkn dengan sambungan dan rujuk silang. Sambungan merupakan alat kohesi yang berupa kata-kata sambung, sedangkan rujuk silang berupa sarana bahasa yang menunjukan kesamaan makna dengan bagian yang direferensi.
Penanda kohesi yang berupa sambungan dapat berupa kata tugas seperti dan, kemudian, sedang, tetapi, namun, melainkan, bahwa, sebab, jika, maka, dsb yang menghubungkan antar bagian kalimat, sebagai preposisi atau konjungsi. Penanda kohesi yang menghubungkan antar kalimat biasanya berupa kata atau kelompok kata yang sama.
Rujuk silang merupakan penyebutan kembali suatu hal yang telah dikemukakan sebelumnya, merupakan sarana pengulangan makna dan referensi. Pengulangan formal adalah bentuk pengulangan paling nyata yang berupa pengulangan kata atau kelompok kata yang sama.
Menurut Leech & Short lewat Nurgiyantoro (1994: 307) mengungkapkan bahwa kohesi mengenal adanya prinsip pengarangan (reduction), yaitu yang memungkinkan kita utnuk menyingkat apa yang akan disebut kembali. Pengurangan tersebut pada umumnya dilakukan apabila sesuatu yang dituturkan itu panjang. Bentuk penyingkatan, pengurangan, atau pergantian yang banyak dipergunakan adalah berupa pemakaian kata-kata ganti persona seperti kalian, kau sekalian, kami, kita, dan mereka.
E.     NADA
Nada atau tone, nada pengarang (authorical tone), dalam pengertian yang luas, dapat diartikal sebagai pendirian atau sikap yang diambil pengarang (tersirat, implied author) terhadap pembaca dan terhadap sebagian masalah yang dikemukakan (Leech & Short via Nurgiyantoro, 2005: 284). Nada merupakan ekspresi sikap, sikap pengarang terhadap masalah yang dikemukakan terhadap pembaca. Dalam bahasa lisan, nada dapat dikenali melalui intonasi ucapan, misalnya nada rendah atau lemah lembut, santai, meninggi, sengit, dan sebagainya.
Sementara itu, dalam bahasa tulis nada akan sangat ditemukan oleh kualitas stile. Oleh karena itu, Kenny mengemukakan bahwa stile adalah sarana, sedangkan nada adalah tujuan. Salah satu kontribusi penting dari stile adalah untuk membangkitkan nada (Kenny via Nurgiyantoro, 1994: 285
BAB III
HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN

A. UNSUR STILE
·         Unsur Leksikal
Unsur leksikal yang dimaksud di sini sama pengertiannya dengan diksi atau pilihan kata-kata tertentu yang sengaja dipilih oleh pengarangnya. Pemilihan kata tersebut melalui beberapa pertimbangan formal.
·         Pertimbangan fonologis
Dalam novel “Ayat-ayat Cinta” pada bab I “Gadis Mesir itu Bernama Maria”, Habiburrahman El Shirazy tidak mempertimbangkan aspek atau unsur fonologis. Pertimbangan unsur fonologis biasanya lebih ditekankan pada karya sastra berbentuk puisi. Dalam puisi, pertimbangan fonologis digunakan untuk kepentingan aliterasi, irama, dan efek bunyi tertentu.
·         Pertimbangan dari segi bentuk, mode, dan makna
Habiburrahman El Shrazy dalam novel “Ayat-ayat Cinta” pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria”, mempertimbangkan segi bentuk, mode, dan makna yang digunakan sebagai sarana untuk mengkonsentrasikan gagasan. Dalam pengungkapan gagasan, Habiburrahman El Shirazy menggunakan bahasa koloqial yang dipadukan dengan bahasa sastra. Bahasa koloqial digunakan untuk mempermudah pemahaman pembaca. Sementara itu, bahasa sastra digunakan untuk menarik pembaca supaya masuk ke dalam cerita yang ditawarkan.
Bahasa koloqial yang digunakan oleh pengarang didominasi dalam bentuk dialog yang digunakan dalam novel tersebut. Hal tersebut digunakan untuk mempermudah sampainya maksud pengarang sehingga pembaca juga lebih mudah memahami maksud yang diinginkan oleh pengarang. Bahasa koloqial tersebut dapat memperlihatkan keakraban, kekeluargaan, dan kuatnya persaudaraan antartokoh di dalam novel “Ayat-ayat Cinta” pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria”. Tampak pada:

“Mas Fahri, udaranya terlalu panas. Cuacanya buruk. Apa tidak sebaiknya istirahat saja di rumah?”, saran Saeful yang baru keluar dari kamar mandi. Darah yang merembes dari hidungnya telah ia bersihkan.”(El Shirazy, 2004: 4)
”Sudah bawa air putih, Mas?”(El Shirazy, 2004: 5)
“Hey, Fahri, panas-panas begini keluar, mau ke mana?
“Shubra.”
“Talaqqi Al Quran ya?”
“Aku mengganguk.”
“Pulangnya kapan?”
“Jam lima insya Allah.”
“Bisa nitip?”
“Nitip apa?”
“Belikan disket. Dua. Aku malas sekali keluar.”
“Baik., insya Allah”(El Shirazy, 2004:8)
Dalam kutipan di atas tampak adanya kedekatan antara Fahri sang tokoh utama dengan Saeful, penghuni flat yang sama dengan Fahri dan dialog yang ketiga fahri dengan Mariam yang meminta fahri untuk membelikan sebuah disket. Dalam pergaulan mereka tampak adanya perhatian dan kasih sayang yang dalam. Pengarang menyampaikan gagasan tersebut dengan bahasa koloqial. Bahasa koloqial tersebut menggunakan bahasa Indonesia dan juga bahasa Arab. Habiburrahman El Shirazy menggunakan bahasa Indonesia dan Arab dalam bentuk bahasa koloqial karena tokoh-tokoh yang digunakan dalam novel “Ayat-ayat Cinta” khususnya pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria” berasal dari Indonesia. Walaupun mereka berlima belajar di Universitas Al Azhar Mesir. Tokoh-tokoh tersebut bernama Fahri, Saeful, Rudi, Hamdi, dan Mishbah. Penggunaan bahasa Indonesia tersebut sebagai salah satu sarana untuk menunjukan pada pembaca bahwa mereka berlima adalah mahasiswa Indonesia yang sedang mengemban amanahnya untuk belajar di Universitas Al Azhar Mesir. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka tetap menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi di antara mereka yang terkadang diselingi dengan bahasa Arab Fusha yang biasanya digunakan oleh orang Mesir sebagai bahasa sehari-hari. Penggunaan bahasa Arab Fusha tampak pada:
“Allah yubarik fik, Mas”. (El Shirazy, 2004: 5)
“Wa iyyakum!”, balasku sambil memakai kaca mata hitam dan memakai topi menutupi kopiah putih yang telah menempel di kepalaku.” (El Shirazy, 2004: 5)
“Fahri, istanna suwaya!” (El Shirazy, 2004: 9)
“Fi eh kaman?” (EL Shirazy, 2004: 9)
“Syukron Fahri.” (El Shirazy, 2004: 9).
Bahasa Arab Fusha yang digunakan sengaja dipilih oleh pengarang sebagai sarana untuk menunjukan pada pembaca bahwa latar atau setting cerita dalam novel “Ayat-ayat Cinta” pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria” tersebut berada di daerah Mesir dengan bahasa Arab Fusha sebagai bagai sehari-hari penduduk Mesir. Allah yubarik fik dalam bahasa Indonesia berarti semoga Allah melimpahkan berkah padama. Wa iyyakum berarti dan semoga melimpahkan (berkah-Nya) pada kalian semua. Fahri, Istanna suwayya berati tunggu sebentar. Fi eh kaman berarti ada apa lagi. Sementara Syukron Fahri berarti terima kasih Fahri.
·         Pilihan kata berdasarkan masalah sintagmatik
Sintagmatik berkaitan dengan hubungan antarkata secara linier untuk membentuk sebuah kalimat. Bentuk-bentuk kalimat yang digunakan oleh Habiburrahman El Shirazy dalam novel “Ayat-ayat Cinta” khususnya bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria” berupa kalimat sederhana dan lazim digunakan karena Habiburrahman El Shirazy menggunakan bahasa koloqial. Penggunaan bahasa koloqial tersebut mempermudah pembaca menelaah isi novel tersebut. Meskipun penggunaan bahasa koloqial tersebut diselingi dengan penggunaan bahasa Arab fusha, pembaca akan tetap paham dengan apa yang dimaksudkan oleh pengarang. Hal tersebut terjadi karena pengarang membubuhkan catatan kaki sebagai terjemahan dari bahasa Arab Fusha yang digunakan.
“Fahri, istana suwayya!”
“Fi eh kaman?”
“Syukron Fahri”
Terjemahan:
Tunggu sebentar
Ada apa lagi?
Terima kasih (El Shirazy, 2004: 9).
·         Pilihan kata berdasarkan masalah paradigmatik
Hubungan Paradigmatik berkaitan dengan pilihan kata di antara sejumlah kata yang berhubungan secara makna, misalnya dalam kutipan berikut:

“Oh ya, hampir lupa, nanti sore yang piket masak Hamdi. Dia paling suka masak oseng-oseng wortel campur kofta.” (El Shirazy, 2004: 5)
“Apalagi jika diselingi minum ashir mangga yang sudah didinginkan satu minggu di dalam kulkas atau makan buah semangka yang sudah dua hari didinginkan.” (El Shirazy, 2004: 7)
Habiburrahman memilih kata kofta yang berarti daging yang telah dicincang halus dengan mesin dan ashir yang berarti juice, karena Habiburrahman menganggap kata-kata berbahasa Arab Fusha tersebut mempunyai konotasi yang paling tepat untuk menyatakan bahwa mereka tinggal di dataran Mesir yang kental dengan dialog Arab Fusha. Dari situ pembaca dapat melihat kebiasaan dan cerminan orang Mesir.
Selain penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Arab Fusha, Habiburrahman El Shirazy menggunakan atau menyisipi bahasa Jawa sebagai sarana penyampaian gagasan. Hal tersebut tampak pada kutipan tersebut:
“Mahasiswa Asia Tenggara yang tidak tahan panas, biasanya sudah mimisan, hidungnya mengeluarkan darah.” (El Shirazy, 2004: 2)
“Sesekali ia kungkum, mendinginkan badan di kamar mandi.”
(El Shirazy, 2004: 2)
“Dengan tekad bulat, setelah mengusir rasa aras-arasen, aku bersiap untuk keluar.” (El Shirazy, 2004: 2)
Penggunaan kata-kata mimisan, kungkum, dan aras-arasen pada kutipan di atas, digunakan oleh Habiburrahman El Shirazy dengan alasan bahwa kata-kata berbahasa Jawa tersebut mempunyai konotasi yang tepat untuk menyatakan bahwa Fahri sang tokoh utama bersal dari indonesia yaitu orang Jawa.
Dalam novel “Ayat-ayat Cinta” pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria”, Habiburrahman El Shirazy juga menggunakan istilah islam yang berkaitan dengan pembacaan Al-Qur’an. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut:
“Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash- Shidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi pada Syaikh Utsman Abdul Fattah. Pada ulama besar ini, aku belajar qiraah sab’ah dan ushul tafsir.” (El Shirazy, 2004: 2)
Penggunaan istilah talaqqi, qiraah sab’ah dan ushul tafsir, memberikan pengertian pada pembaca bahwa Fahri sang tokoh utama adalah seorang mahasiswa Us’uludin yang hafal Al-Qur-an dan belajar membaca Al-Qur’an dengan riwayat tujuh imam. Istilah-istilah tersebut memberikan gambaran siapa dan bagaimana sebenarnya tokoh utama dalam cerita ini. Adanya istilah-istilah dalam proses pembacaan Al-Qur’an tersebut tidak menyebabkan pembaca hilang komunikasi dengan pengarang. Justru hal tersebut memberikan gambaran yang jelas dengan tokoh Fahri. Hal ini disebabkan karena pengarang memberikan catatan kaki sebagai terjemahan dari istilah-istilah tersebut. Talaaqi berarti belajar langsung face to face dengan seorang Syaikh atau ulama. Qiraah sab’ah adalah membaca Al-Qur’an dengan riwayat tujuh imam. Sementara ushul tafsir adalah ilmu tafsir paling pokok.
Di samping penggunaan istilah-istilah dalam pembelajaran Al-Qur’an, Habiburrahman El Shirazy juga menggunakan nama-nama tokoh yang bernuansa islam dan Mesir sebagai sarana penggambaran bahwa tokoh-tokohnya adalah seorang muslim. Nama-nama tokoh tersebut mulai dari mahasiswa Indonesia yang berada dalam flat tersebut yaitu Fahri, Saeful, Misbah, Rudi, dan Hamdi. Nama-nama tersebut adalah nama-nama yang biasa dipakai oleh orang Indonesia untuk seorang muslim. Selain itu pengarang juga menggunakan nama-nama para ulama yang sangat diagungkan dalam islam. Nama-nama tersebut seperti Syaikh Utsman Abdul Fattah, dan Syaikhul Maqari Wal Huffadh Fi Mashr. Hal tersebut menunjukkan bahwa, tokoh utama kita Fahri memang belajar di Mesir yang memiliki guru/ dalam islam biasa disebut Ustad yang berasal dari Mesir.
Dilihat dari segi nama, Pembaca dapat masuk dalam suasana yang ditawarkan oleh penulis. Selain itu, dalam bab ‘Gadis Mesir itu Bernama Maria’ Habiburrahman memunculkan nama Maria seorang gadis kristen koptik dari keluarga Tuan Boutros Rafael Girgis. Kedua nama tersebut menunjukkan bahwa Maria dan Tuan Boutros merupakan pengikut kristen koptik yang berdarah Mesir. Hal itu juga dapat dilihat dari nama belakang Tuan Boutros yaitu Girgis. Habiburrahman juga sangat pendai dalam mendeskripsikan tempat dan keadaan sehingga pembaca pembaca benar-benar merasa masuk ke dalam negeri Mesir sebagai setting yang ditawarkan oleh pengarang. Pembaca benar-benar merasakan bagaimana kondisi Mesir dan seolah-olah melihat serta merasakan sendiri. Hal tersebut tampak pada:
“Tengah hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir seakan menguakan bau meraka. Hembusan angin sahara disertai debu yang bergulung-gulung menambah panas udara semakin tinggi dari detik ke detik. Penduduknya, banyak yang berlindung dalam flat yang ada dalam apartemen-apartemen berbentuk kubus dengan pintu, jendela, dan tirai tertutup rapat” (El Shirazy, 2004: 1)
“Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di masjid Abu Bakar Ash Shiddik yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi pada Syaikh Utsman Abdul Fattah (El Shirazy 2004:2)
Selain penggunaan empat pertimbangan formal di atas, dalam analisis leksikal sebuah karya fiksi dapat dilakukan berdasarkan tinjauan secara umum dan jenis kata. Dalam novel “Ayat-Ayat Cinta” (Gadis Mesir itu Bernama Maria), Habiburrahman menggunakan kata-kata yang sederhana dari ragam bahasa kolokial. Selain itu, Habiburrahman juga menggunakan kata-kata berbahasa Arab Fusha yang kadarnya cukup banyak. Arah makna yang ditunjuk bersifat referensial karena mengacu pada hal yang dituju dan bersifat denotasi karena menggunakan bahasa yang bermakna sesungguhnya berupa ragam bahasa koloqial.
Analisis unsur leksikal selanjuntnya adalah berdasarkan jenis kata. Dalam novel “Ayat-ayat Cinta” bab I “Gadis Mesir itu Bernama Maria” dipakai kata benda sederhana yang sifatnya kongkret. Hal ini dikarenakan kata benda yang digunakan menunjuk pada benda, makhluk, atau manusia. Kata kerja yang digunakan berupa kata kerja kompleks karena terdiri dari kata kerja transitif dan kata kerja intransitif. Kata keja transitif dan intransitif tersebut mengacu pada tindakan, pernyataan, atau peristiwa. Dalam novel “Ayat-ayat Cinta” khususnya pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria”, Habiburrahman El Shirazy sedikit menggunakan kata sifat dan kata bilangan. Di sisi lain, penggunaan kata tugas cukup mendominasi. Kata-kata tersebut meliputi: sebagaimana, lalu, dan, atau, hanya, sementara, apalagi, tapi, ketika, saat, serta lalu.
Maria lalu melantunkan surat Maryam yang ia hafal,. Anehnya ia terlebih dahulu membaca ta’awudz. Dan basmalah. Ia tahu adab dan tata cara membaca alquran . jadilah dalam perjalanan dari mahattah anwar sadat tahrie samapi tura el-esmen kuhabiskan untuk menyimak seorang maria membaca surat Maryam dari awal samapi akhir…(El Shirazy 2004:11)
Untuk lebih jelasnya, tabel identifikasi jenis kata dan frekuensi munculnya berbagai jenis kata tersebut terdapat pada halaman lampiran.

B. UNSUR GRAMATIKAL
Unsur gramatikal merupakan unsur yang menyaran pada pengertian struktur kalimat. Dilihat dari kepentingan stile, kalimat lebih penting dan bermakna daripada sekedar kata, walau kegayaan kalimat banyak dipengaruhi oleh pilihan kata. Kegiatan analisis unsur gramatikal dapat dilakukan dengan berbagai metode. Metode yang digunakan yaitu kompleksitas kalimat, jenis kalimat, dan jenis kata serta frasa.

1). Kompleksitas Kalimat
Pada novel “Ayat-ayat Cinta” pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria”, menggunakan kalimat sederhana yang didominasi oleh kalimat kompleks yang mudah dipahami. Kalimat kompleks tersebut mudah dipahami karena pengarang menggunakan bahasa koloqial dalam pengungkapan gagasan. Kompleksitas kalimat tampak pada penggunaan kalimat yang panjang-panjang, dan didominasi oleh tipe kalimat majemuk koordinatif dan kalimat mejemuk subordinatif. Kesederhanaan kalimat tampak pada:
“Sudah bawa air putih, mas? (El Shirazy, 2004: )
“Aku mengangguk.” (El Shirazy, 2004: 5)
Aku membalikkan badan dan melangkah(El Shirazy, 2004: 5)
Uangnya” (El Shirazy, 2004: 9)
Benarkah?” (El Shirazy, 2004: 9)
Aku diam tidak menjawab” (El Shirazy, 2004: 11)
Kompleksitas kalimat tampak pada kutipan berikut ini:
“Memang, istirahat di dalam flat sambil menghidupkan pendingin ruangan jauh lebih nyaman daripada berjalan ke luar rumah, meski sekadar untuk sholat berjama’ah di masjid.” (El Shirazy, 2004: 1)
“Ia tidak kenal kesah, tetap teguh berdiri seperti yang dititahkan Tuhan sambil bertasbih siang dan malam atau seperti matahari yang telah jutaan tahun membakar tubuhnya untuk memberikan penerangan ke bumi dan seantero maya pada”. (El Shirazy, 2004: 1-2)
“Penduduknya, banyak yang berlindung dalam flat yang ada dalam apartemen-apartemen berbentuk kubus dengan pintu, jendela, dan tirai tertutup rapat.” (El Shirazy, 2004: 2)
“juga keterangan bahwa pendapat Maria yang mengatakan huruf-huruf itu tak lain adalah rumus-rumus Tuhan Yang Maha dahsyat maknanya, dan hanya Tuhan yang tahu persis maknanya, ternyata merupakan pendapat yang dicenderungi mayoritas ulama tafsir.” (El Shirazy, 2004: 13)
“Ia sangat mengaguminya, meskipun ia tidak pernah mengaku muslimah.” (El Shirazy, 2004: 12)
Mungkin, sejak azan berkumandang Mariyam telah membuka daun jendela keyunya. Dari balik kaca ia melihat ke bawah. Dari balik kaca menunggu aku keluar. Begitu aku tampak keluar menuju halaman apartemen, ia membuka jendekla kacanya , dan memanggil dengan suara setengah berbisik… (El Shirazy, 2004: 14)
Kompleksitas kalimat juga dapat terlihat melalui jumlah kata yang digunakan dalam setiap kalimat. Namun dari sekian paragraf yang muncul kekompleksitasan kalimat dibangun dengan indah. Pembaca dibuat tidak bingung karena alur cerita yang ringan dan pilihan kata yang koloqial. Jadi, Kompleksitas kalimat tidak mempersulit pembaca untuk memahami isi cerita khusunya pada bab I ini.
2). Jenis Kalimat
Dalam novel “Ayat-ayat Cinta” khususnya pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria”, Habiburrahman El Shirazy menggunakan jenis kalimat yang bervariasi. Jenis kalimat tersebut adalah kalimat deklaratif, kalimat imperatif, kalimat introgatif, dan kalimat minor.
a). Kalimat Deklaratif (kalimat pernyataan)
Kalimat deklaratif tampak pada:
“Tengah hari ini, kota Cairo seakan membara.” (El Shirazy, 2004: 1)
“Awal-awal agustus memang puncak musim panas.” (El Shirazy, 2004: 1)
Awal-awal Agustus memang puncak musim panas. (El Shirazy, 2004: 2)
Angin sahara kembali menerpa wajahku. Aku melangkah keluar lalu menuruni tangga satu per satu . (El Shirazy, 2004: 8)
b). Kalimat Imperatif (kalimat perintah atau larangan)
Kalimat imperatif tampak pada:
“Terus tolong nanti bilang sama dia untuk beli gula dan minyak goreng.” (El Shirazy, 2004: 5)
c). Kalimat Introgatif (kalimat pertanyaan)
Kalimat Introgatif tampak pada:
“Hei Fahri, panas-panas begini keluar, mau ke mana?”  (El Shirazy, 2004: 8)
Pulangnya kapan? (El Shirazy, 2004: 8)
Nitip apa ya? (El Shirazy, 2004: 8)
“Apa bedanya Maria dan Maryam?” (El Shirazy, 2004: 10)
“Kau juga suka menghafal Al-Qur’an? Apa aku tidak salah dengar?, kataku.” (El Shirazy, 2004: 11)
“Apa tidak sebaiknya istirahat saja di rumah?” (El Shirazy, 2004: 4)
d). Kalimat Minor (kalimat yang fungtor-fungtornya tidak lengkap)
Kalimat Minor tampak pada:
“wuss!” (El Shirazy, 2004: 8)
“Psst...psst...Fahri!Fahri!” (El Shirazy, 2004: 4)
Jenis kalimat yang menonjol dalam novel “Ayat-ayat Cinta” khususnya pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria” karya habiburrahman El Shirazy adalah kalimat deklaratif. Hal ini disebabkan karena pengarang adalah pencerita yang baik sehingga dalam narasinya sering keluar kalimat deklaratif. Hal ini menunujukan bahwa pada novel ini pengarang menarasikan cerita begitu apik namun tak jarang muncul dialog-dialog antara tokoh utama dengan tokoh yang lain. Selain itu, pengarang mencoba mendeskripsikan latar untuk lebih mengenalkan kepada pembaca masuk dalam dunia yang diceritakannya (baca: kota mesir). Bab I ini begitu mengalir menceritakan bagamanan kondisi kota mesir yang panas dan mencapai suhu yang berlipat disbanding Negara Indonesia. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran.
C. RETORIKA
a) Pemajasan
1. Personifikasi, seperti tampak pada:
“Panas membara dan badai debu menggulung gulung di luar sana.”
(El Shirazy, 2004:3)
“Tanah dan pasir seakan menguapkan bau neraka.“(El Shirazy, 2004:1)
“Hembusan angin sahara disertai debu yang bergulung-gulung menambah panas udara semakin tinggi dari detik ke detik.”(El Shirazy, 2004:1)
“Debu bergumpal-gumpal bercampur pasir menari-nari dimana-mana.”
(El Shirazy, 2004:4)
“Angin sahara menampar mukaku dengan kasar.” (El Shirazy, 2004:4)
“Angin sahara terdengar mendesau-desau.” (El Shirazy, 2004:4)
2. Hiperbola seperti tampak pada:
“Kota Cairo seakan membara.”(El Shirazy, 2004:1)
3. Perumpamaan seperti tampak pada:
“Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi.”
(El Shirazy, 2004:1)
4. Penyiasatan Struktur
a. Paralelisme
Tampak pada kutipan berikut ini:
“...lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi.”
(El Shirazy, 2004:1)
“Panggilan adzan Zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran di seantero kota hanya mampu menggugah dan menggerakkan hati mereka yang benar-benar tebal imannya.” (El Shirazy, 2004:1)
“ Mereka yang memiliki tekad beribadah sempurna mungkin dalam segala musim dan cuaca.” (El Shirazy, 2004: 1)
“Keras dan kacau”. (El Shirazy, 2004:4)
“Aku harus jeli memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan anggota.” (El Shirazy, 2004:5)
“...jika tidak diatur dengan bijak dan baik.” (El Shirazy, 2004:6)
“Semua punya hak dan kewajiban yang sama.”  (El Shirazy, 2004: 6)
“Inilah yang membuatku menganggap Maria adalah gadis aneh dan misterius.” (El Shirazy, 2004: 14)
b. Anafora, tampak pada:
“Meskipun panas membara dan badai debu bergulung-gulung di luar sana. Meskipun jarak yang ditempuh kira-kira kima puluh kolometer jauhnya”. (El Shirazy, 2004: 3)
c. Parasendenton tampak pada:
“Padahal rumah beliau dari masjid tak kurang dari dua kilo” tukasku sambil bergegas masuk kamar kembali, mengambil topi, dan kaca mata hitam.” (El Shirazy, 2004:5)
“Terus tolong nanti bilang sama dia untuk beli gula, dan minyak goreng/” (El Shirazy, 2004:5)
“Kebetulan wortel dan koftanya habis.”(El Shirazy, 2004:5)
“Hari ini, kebetulan yang ada di flat hanya tiga orang, yaitu aku, Saiful, dan Rudi.” (El Shirazy, 2004:6)
d. Asandenton seperti tampak pada:
“Dalam flat ini kami hidup berlima, aku, Saiful, Rudi, Hamdi, Misbach.”(El Shirazy, 2004: 5)
“Membaca bahan untuk tesis, talaqqi qiraah sab’ah, menerjemah, dan diskusi intern dengan teman-teman mahasiswa Indonesia yang sedang menempih S2 dan S3 di Kairo. Urusan-urusan kecil seperti belanja, memasak, membuang sampah...” (El Shirazy, 2004: 6)
e. Repetisi, tampak pada:
“Saling mencintai, mengasihi,dan mengerti. “ (El Shirazy, 2004:6)
“Ah, kalau tidak ingat bahwa kelak akan ada hari yang lebih panas dari hari ini dan lebih gawat dari hari ini. Hari ketika manusia digiring di padang Mashar dengan matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala. Kalau tidak ingat, bahwa keberadaanku di kota seribu menara ini adalah amanat. Dan amanat akan dipertanggung jawabkan dengan pasti. Kalau tidak ingat, bahwa masa mudayang sedenga aku jalani ini akan dipertanggungjawabkan kelak. Kalau tak ingat, bahwa tidak semua orang diberi nikmat belajar di bumi para nabi ini. Kalau tidak ingat, bahwa aku belajar disini dengan menjual satu-satunya sawah warisan kakek. Kalau tidak ingat, bahwa aku dilepas dengan linangan air mata, dan selaksa doa dari ibu, ayah, dan sanak saudara. Kalau tak ingat, bahwa jadwal adalah janji yang harus ditepati.” (El Shirazy, 2004:7)
f. Paradoks, tampak pada:
“Maria suka pada Al-qur’an. Ia sangatm mengaguminya, meskipun is tak pernah mengaku muslimah. Penghormatannya pada Al-qur’an mungkin melebihi intelektual muslim.”(El Shirazy, 2004:12)
“...ia paling suka dengar suara adzan, tapi pergi ke gereja tak pernah ia tinggalkan.” (El Shirazy, 2004:12)
“Aku saja yang koptik bisa merasakan betapa indahnya Al-qur’an dengan Alif lam mim-nya.” (El Shirazy, 2004: 13)
b) Pencitraan
Dalam novel “Ayat-Ayat Cinta” khususnya pada bab (Gadis Mesir itu Bernama Maria) terdapat beberapa pencitraan, di antaranya:
1). Citraan Visual atau Penglihatan
“Tengah hari ini, kota Kairo seakan membara.” (El Shirazy, 2004:1)
“Matahari berpijar di tengah petala langit.” (El Shirazy, 2004:1)
“Penduduknya, banyak yang berlindung dalam flat yang ada dalam apartemen-apartemen berbentuk kubus dengan pintu, jendela, dan tirai tertutup rapat.” (El Shirazy, 2004:1)
“Panggilan adzan Zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran di seantero kota hanya mampu menggugah dan menggerakkan hati mereka yang benar-benar tebal imannya.” (El Shirazy, 2004:1)
“...seperti karang yang tegak berdiri dalam terjangan ombak, terpaan badai, dan sengatan matahari.” (El Shirazy, 2004:1)
“Atau seperti matahari yang telah jutaan membakar tubuhnya untuk memberikan penerangan ke bumi dan seantero mayapada.”  (El Shirazy, 2004: 2)
“...meskipun panas membara dan debu bergulung-gulung di luar sana.” (El Shirazy, 2004: 3)
“Hari ketika manusia digiring di padang Mashar dengan matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala.” (El Shirazy, 2004:7)
“Sampai di halaman apartemen, jilatan panas api seakan menembus topi hitam dan kopiah putih yang menempel di kepalaku.” (El Shirazy, 2004:8)
“Matanya yang bening menatapku penuh binar.”(El Shirazy, 2004: 8)
“Seandainya tidak memakai kacamata hitam, sinarnya yang benderang akan terasa perih menyilaukan mata.” (El Shirazy, 2004: 8)
2). Citraan Auditoris atau Pendengaran
“Panggilan adzan Zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran di seantero kota hanya mampu menggugah dan menggerakkan hati mereka yang benar-benar tebal imannya.” (El Shirazy, 2004:1)
“Ia tidak pernah mengeluh, tiada pernah mengerang sedetik pun menjalankan titah Tuhan.” (El Shirazy, 2004:2)
“Angin sahara terdengar mendesau-desau.” (El Shirazy, 2004:4)
“Mungkin sejak adzan berkumandang Maria telah membuka daun jendela kayunya.”(El Shirazy, 2004: 14)
3). Citraan Gerak (Kinestetis)
“Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi.”
(El Shirazy, 2004:1)
“Hembusan angin sahara disertai debu yang bergulung-gulung menambah panas udara semakin tinggi dari detik ke detik.” (El Shirazy, 2004:1)
“...darah selalu merembes dari hidungnya.”  (El Shirazy, 2004:2)
“Panas disertai gulungan debu berterbangan.” (El Shirazy, 2004:4)
“Angin sahara menampar mukaku dengan kasar.”(El Shirazy, 2004: 4)

“Debu bergumpal-gumpal bercampur pasir menari-nari dimana-mana.”(El Shirazy, 2004:4)
“Darah yang merembes dari hidungnya telah ia bersihkan.”
(El Shirazy, 2004: 4)
“Hari ketika manusia digiring di padang Mashar dengan matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala.” (El Shirazy, 2004:7)
“Kalau tidak ingat aku dilepas dengan linangan air mata dan selaksa doa dari ibu, ayah, dan sanak saudara.” (El Shirazy, 2004:7)
“Wuss!, angin sahara kembali menerpa wajahku.” (El Shirazy, 2004: 8)
“Sampai di halaman apartemen, jilatan panas api seakan menembus topi hitam dan kopiah putih yang menempel di kepalaku.” (El Shirazy, 2004:8)
“Kulangkahkan kaki ke jalan. “Psst...psst...Fahri! fahri!”  (El Shirazy, 2004: 8)
4). Citraan Penciuman
“Tanah dan pasir seakan menguapkan bau neraka.” (El Shirazy, 2004:1)
Pada novel “Ayat-ayat Cinta” pada bab I (Gadis Mesir itu Bernama Maria), karya Habiburrahman El Shirazy terdapat banyak citraan yang mampu membawa pembaca lebih larut dalam cerita yang ditawarkan. Citraan-citraan tersebut meliputi citraan visual, citraan, gerak, citraan penciuman, dan citraan pendengaran. Citraan visual, gerak, dan pendengaran lebih mendominasi dibandingkan dengan citraan penciuman. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel frekuensi kemunculan.
5. TONE
Tone atau nada dalam Novel “Ayat-ayat Cinta” khususnya pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria”, Habiburrahman El shirazy digunakan sebagai sarana untuk menyiratkan perasaan misalnya nada yang bersifat intim, santai, simpatik, romantis, mengharukan, sentimental, kasar, dan sinis. Pemilihan bentuk ungkapan tertentu dalam suasana cerita yang tertentu akan membangkitkan nada yang tertentu pula. Hal ini dikarenakan bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria” merupakan bab pertama dari novel “Ayat-ayat Cinta” sehingga bab tersebut masih dalam tahap pengenalan para tokoh. Berikut ini beberapa contoh nada yang bersifat santai:

“Mas Fahri, udaranya terlalu panas. Cuacanya buruk. Apa tidak sebaiknya istirahat saja di rumah? Saran Saeful yang baru keluar dari kamar mandi. Darah yang merembes dari hidungnya telah ia bersihkan.”
(El Shirazy, 2004: 4)
“Hei namamu Fahri, iya kan?
“Benar”
“Kau pasti tahu namaku, iya kan?”. (El Shirazy, 2004: 10)
“Hei Fahri, panas-panas begini keluar, mau ke mana?”
“Shubra.”
“Talaqqi Al Qur’an ya?”
Aku mengangguk.” (El Shirazy, 2004: 8)
6. KOHESI
Kohesi merupakan suatu cara untuk mengungkapkan gagasan yang utuh, tiap bagian kalimat, tiap kalimat, tiap alinea yang dimaksudkan untuk mendukung gagasan yang dihubungkan antara satu dengan yanng lainnya. Pengungkapan tersebut dilakukan baik secara ekslusif, inklusif, maupun keduanya secara bersamaan atau bergantian. Penanda kohesi yang berupa sambungan dalam bahasa ada banyak sekali dan berbeda-beda fungsinya. Penanda kohesi ini berupa kata tugas seperti: dan, kemudian, sedang, tetapi, namun, melainkan, bahwa, dan lain-lain. Di bawah ini merupakan contoh penanda kohesi yang berupa sambungan dalam bahasa Indonesia.
“ Memang, istirahat di dalam flat sambil menghidupkan pendingin ruangan jauh lebih nyaman daripada berjalan keluar rumah, meski sekedar untuk shalat berjamaah di masjid”. (El Shirazy, 2004: 1)
“Panggilan adzan Zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran di seantero kota hanya mampu menggugah dan menggerakkan hati mereka yang benar-benar tebal imannya.” (El Shirazy, 2004:1)
“ Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen aku bersiap untuk keluar”. (El Shiorazy, 2004: 2)
“ Sangat tidak enak jika aku absen hanya karena alasan panasnya suhu udara”. (El Shirazy, 2004: 3)
“Tahun ini setelah melalui ujian kelat beliau hanya menerima sepuluh orang murid”. (El Shirazy, 2004: 3)
Selain kohesi yang menggunakan penghubung antarkata berupa kata tugas terdapat jyga kohesi yang menghubungkan kata preposisi dan konjungsi. Hal tersebut tampak pada:
“ Tiga hari ini, memasuki pukul sebelas siang sampai pukul tujuh petang, darah selalu merembes dari hidungnya. Padahal ia tidak keluar flat sama sekali”. (El Shirazy, 2004: 2)
“ Sangat tidak enak jika aku absen hanya karena alasan panasnya suhu udara. Sebab beliau tidak sembarang meneria murid untuk talaqqi qiraah sab’ah”.
(El Shirazy, 2004: 3)
“ Aku termasuk sepuluh orang yang beruntung itu. Lebih beruntung lagi, beliau sangat mengenalku. Itu karena sejak tahun pertama kuliah aku sudah menyetorkan hafalan Al-qur’an pada beliau di serambi masjid Al Azhar, juga karena aku di antara sepuluh orang yang terpilih itu ternyata hanya diriku seorang yang bukan orang Mesir.”(El Shirazy, 2004: 3)

BAB IV
KESIMPULAN
Kajian stilistik novel “Ayat-ayat Cinta” pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria” karya Habiburrahman El Shirazy mampu menerangkan hubungan antarbahasa dengan fungsi artistik dan maknanya. Unsur stile yang terdapat dalam kajian stilistik novel “Ayat-ayat Cinta” pada bab I ini karya Habiburrahman El Shirazy meliputi unsur leksikal, unsur gramatikal, aspek retorikal, aspek nada, dan aspek kohesi,
Dalam novel “Ayat-ayat Cinta” khususnya bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria” karya Habiburrahman El Shirazy menggunakan ragam bahasa koloqial yang dipadukan dengan bahasa sastra sebagai sarana penciptaan efek estetis.
Unsur leksikal pada novel “Ayat-ayat Cinta” khususnya pada bab “Gadis Mesir itu Bernama Maria” menggunakan kata-kata koloqial berbahasa Indonesia yang dipadukan dengan bahasa Arab Fusha. Bahasa Arab Fusha mampu menggambarkan latar terjadinya cerita pada pembaca yaitu di Mesir. Dalam unsur gramatikal, Habiburrahman El Shirazy lebih dominan menggunakan kalimat deklaratif. Hal ini tampak pada paragraf-paragraf yang terjalin pada bab I ini. Pengarang mendeskripsikan cerita dalam bentuk kalimat deklaratif (pernyataan).
Unsur lain yang mendukung pencapaian efek estetis yaitu penyiasatan struktur. Dalam pencapaian kesan estetis tersebut pemakaian unsur penyiasatan struktur dan pemajasan cukup mendominasi. Selain itu, unsur kohesi sangat mempengaruhi terbentuknya bangunan struktur yang baik untuk mendukung gagasan baik secara eksplisit maupun implisit. Kesemuanya itu dilengkapi dengan aspek nada yang bersifat santai membuat pembaca merasa nyaman membaca novel tersebut dengan gaya penceritaan habiburrahman El Shirazy.
Jadi, dari kajian ini cukup bisa ditarik kesimpulan bahwa pengarang mampu menciptakan aspek keindahan dan menghantarkan pembaca untuk menikmati bab berikutnya. Bab I adalah awal dari semuanya dan hal yang paling menarik dari bab ini adalah pembaca diajak untuk menikmati bab selanjutnya. Hal ini lah yang menarik dari novel ayat- ayat cinta karya Habiburrahman El Shirazy.
DAFTAR PUSTAKA
El Shirazy, Habiburrahman. 2004. Ayat-ayat Cinta. Jakarta: Grasindo.
Keraf, Gorys. 1981. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Nusa Indah.
¬___________. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: Nusa Indah
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada Univesity Press.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar