Minggu, 02 Oktober 2011

Linguistik Umum
1.     Pengertian Bahasa
Bahasa adalah sistem lambang bunyi oral yang arbitrer yang digunakan oleh sekelompok manusia (masyarakat) sebagai alat komunikasi.
Bahasa juga merupakan bagian dari kebudayaan yang diperoleh manusia untuk mengkomunikasikan makna. Bahasa bekerja dalam cara yang teratur dan sistematis. Pada dasarnya bahasa adalah lisan, dan simbol-simbol oral itu mewakili makna karena simbol-simbol itu dihubungkan dengan situasi dan pengalaman kehidupan.
Bahasa memiliki fungsi sosial, dan tanpa fungsi itu masyarakat mungkin tidak ada.

2.     Karakteristik Bahasa
1.     Oral. Pada hakikatnya bahasa adalah lisan atau oral, yang mana ada kalanya tidak bisa diungkapkan secara sempurna dengan tulisan.
2.     Sistematis, Sistemis, dan Komplit. Sistematis berarti bahasa mempunyai aturan, kaidah, atau dapat diartikan mempunyai jumlah yang terbatas untuk bisa dikombinasikan. Sistemis berarti bahasa bekerja dalam sebuah sistem dan sesuai dengan kaidah dan aturan yang berlaku. Dan yang dimaksud komplit yaitu, dengan bahasa kita dapat mengungkapkan segala hal walaupun tentang sesuatu yang belum kita ketahui.
3.     Arbitrer dan Simbolis. Arbitrer artinya, bahasa yang kita gunakan tidak selalu logis atau punya alasan tertentu, sifat ini hanya berlaku dalam masyarakat bahasa dalam bentuk kesepakatan atau konvensi. Sifat simbolis yang dimiliki bahasa dapat mengabstraksikan ide-ide dan pengalaman, meskipun kita belum pernah mengalaminya secara langsung.
4.     Konvensional, berdasarkan kesepakatan tetapi bukan kesepakatan melalui rapat, dan pemakai bahasa harus tunduk pada kesepakatan itu. Karena jika tidak, maka bahasa tersebut tidak akan komunikatif.
5.     Unik dan Universal. Dalam beberapa bahasa tertentu ciri yang unik, namun tetap mempunyai ciri yang universal atau umum sebagaimana pada bahasa lainnya.
6.     Beragam. Bahasa tidaklah monolitik tapi mempunyai ragam yang bermacam-macan tergantung pada dasar klasifikasinya. Berdasarkan kebakuannya, bahasa dikategorikan menjadi dua, yaitu: ragam baku dan ragam subbaku. Berdasarkan formalitas pemakaiannyadigolongkan menjadi lima ragam, yaitu: ragam beku, ragam resmi, ragam usaha, ragam santai, dan ragam akrab.
7.     Berkembang. Seirng dengan berkembangnya teknologi maka bahasa pun ikut berkembang dengan menggunakan kata-kata yang berasal dari bahasa asing.
8.     Produktif dan Kreatif. Karakter ini tergantung pada pemakainya. Pemakai bahsa dengan pola-pola dan lambing-lambang yang terbatas dapat mengkreasikan hal-hal baru melalui bahasa.
9.     Merupakan Fenomena Sosial. Bahasa merefleksikan kebudayaan masyarakat pemakainya, karena bahasa merupakan bagian dari sistem nilai, kebiasaan dan keyakinan yang kompleks dalam membentuk suatu kebudayaan.
10.                        Bersifat Insani. Hanya manusia yang mempunyai kemampuan berbahasa. Bahasa juga merupakan suatu aspek perilaku yang bisa dipelajari oleh manusia.

3.     Satuan-Satuan Bahasa
Satuan bahasa (linguistic unit) merupakan bentuk-bentuk lingual yang merupakan komponen pembentuk bahasa yang hanya mengacu pada unsur atau komponen bahasa. Jadi, harus disadari bahwa ada bentuk lingual dan nonlingual.
Adapun wujud satuan bahaa adalah sebagai berikut:
1.     Fon dan Fonem. Fon merupakan satuan bahasa yang bersifat konkret, dapat didengar dan diucapkan. Sedangkan fonem adalah abstraksi dari fon. Contoh fon: Panci, terdiri atas p/a/n/c/i. Lutut terdiri atas l/u/t.
2.     Morf dan Morfem. Morf terdapat dalam pelaksanaan bahasa, dapat diidentifikasi, diucapkan dan didengar. Sedangkan morfem bersifat abstrak. Contoh: bekerja dan berjalan mempunyai bentuk awalan yang berbeda, yaitu ber- dan be-. Namun keduanya tetap memiliki makna yang sama.
3.     Kata. Satuan bahasa yang terbentuk dari satu morfem atau lebih. Misalnya, kata melihat terdiri dari morfem me- dan lihat. Kata aku terdiri dari satu morfem.
4.     Frase. Satuan grmatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak terdiri atas subjek dan objek. Contoh: kaki saya, kaki meja kayu.
5.     Klausa. Satuan gramatikal unsure pembentuk kalimat yang berstruktur predikatif. Klausa bukanlah kalimat dan diakhiri dengan titik tiga (…). Contoh: dia telah berjalan…
6.     Kalimat. Ujaran yang berisi pikiran lengkap yang tersusun dari subjek dan predikat, dengan pengertian bahwa subjek adalah tentang apa yang dikatakan dan predikat adalah apa yang dikatakan tentang subjek.
7.     Gugus Kalimat. Satuan-satuan bahasa yang lebih kecil dari paragraf, karena gugus itu berada dalam paragraph.
8.     Paragraf. Terbentuk dari sejumlah kalimat, tapi lebih besar dari gugus kalimat. Jumlah kalimat dan paragraf juga bermacam-macam.
9.     Wacana. Wacana adalah satuan kalimat yang paling besar. Kridalaksana mengartikan wacana sebagai tujuan bahasa terlengkap. Wacana ada yang berbentuk lisan dan tulisan.

4.     Fungsi Bahasa
Berikut adalah beberapa fungsi bahasa:
1.     Fungsi personal, untuk menyatakan diri.
2.     Fungsi interpersonal, untuk menyatakan hubungan dengan orang lain.
3.     Fungsi direktif, untuk mengatur orang lain.
4.     Fungsi referensial, untuk menampilkan suatu referen (kabar, benda, dan lain sebagainya) dengan menggunakan lambang bahasa.
5.     Fungsi imajinatif, untuk nenciptakan sesuatu dengan berimajinasi.
6.     Fungsi fatik (phatic), untuk berbasa-basi.


5.     Teori Asal Mula Bahasa
Para ahli bahasa mempunyai pendapat yang berbeda-beda tentng asal mula bahasa itu, antara lain adalah sebagai berikut:
1.     Teori tekanan sosial, manusia primitif dihadapkan pada kebutuhan untuk saling memahami antara satu dengan yang lainnya.
2.     Teori ekoik (gema), objek diberi nama sesuai dengan bunyi yang dihasilkan.
3.     Teori interjeksi, manusia bersuara secara instingtif karena tekanan batin, rasa sakit, dan lain sebagainya.
4.     Teori isyarat, bahasa pertama kali dilakukan dengan isyarat.
5.     Bersumber dari Tuhan. Sebagaimana yang tersurat dalam Al-Quran (Ar-Rum: 22), Injil (Kejadian 2:19), dan Weda.

6.     Pilihan Dikotomis Bahasa
Bahasa sebagai objek kajian linguistik lazim dikaji secara dikotomis.
1.     Langue dan Parole. Langue adalah sistem bahasa yang dipakai untuk mengungkapkan gagasan, sedangkan parole adalah wujud bahasa seseorang (tiap orang berbeda).
Perbedaan antara langue dan parole:
1.     Parole bersifat perorangan, di dalamnya tidak terdapat sistem bahasa yang utuh.
2.     Parole jumlahnya tak terbatas, sedangkan langue terbatas.
3.     Parole bersifat sesaat dan langue berada dalam keseluruhan kesan yang tersimpan dalam otak setiap anggota masyarakat.
4.     Langue adalah abstraksi dari parole.
2.     Petanda dan penanda, petanda adalah konsep, sedangkan penanda yaitu ciri akuistik atau bunyi ujar.
3.     Relasi sintagmatis dan relasi paradigmatis
Relasi sintagmatis, relasi horizontal atau relasi antarunsur bahasa yang hadir dalam satu tuturan, disebut juga relasi inpraesentia.
Contoh : tetangga adik teman saya
adik teman tetangga saya
b-a-t-u pagi-tadi
b-a-u-t tadi-pagi
dan lain sebagainya.
Relasi paradigmatis, relasi antarunsur dalam tuturan dan unsur yang tidak hadir dalam tuturan. Unsur yang tidak hadir ini adalah unsur yang diasosiasikan (inabsentia).
Contoh : Ali mencium ibu s-a-r-i
Ali menggandeng ibu c-a-r-i
t-a-r-I,
dan lain sebagainya.
4.     Kompetensi dan Performansi
Kompetensi, pengetahuan seseorang tentang sistem bahasa, bersifat kumulatif, dan melalui proses belajar.
Performansi, pelaksanaan bahasa.
5.     Struktur batin dan struktur lahir
Struktur batin, gagasan yang mendasari kalimat, berbentuk abstrak, tak bisa dilihat dan didengar.
Struktur lahir, bahasa yang tampak, bisa didengar atau dibaca.

Selain bahasa dikaji secara dikotomis, kajian bahasa juga digunakan untuk kajian ilmiah. Yang dimaksud ilmiah adalah pengetahuan yang didapat melalui metodwe ilmiah. Ada pun berbagai macam dari metode ilmiah itu sendiri seperti, deduktif, induktif, dan logika-hipotetiko-verifikatif. Karakteristik ilmu yaitu, objektif, sistematis, logis, empiris, dan akumulatif (semakin bertambah atau berkembang).
Ciri khusus dari kajian bahasa ini adalah:
1.     Bahasa didekati secara deskriptif, apa adanya, bukan secara prespiktif.
2.     Tidak berusaha memaksakan satu kerangka bahasa ke dalam bahasa lain.
3.     Bahasa disikapi sebagai sistem dan bukan sesuatu yang lepas.
4.     Bahasa diperlukan sebagaisuatu yang dinamis.


7.     Dasar-Dasar Fonologi
Konsep dasar
FON : realisasi bunyi atau wujud bunyi. Fon berada dalam tataran parole
Contoh: [i], [I], [u], [U], [e], dan lain-lain.
FONEM : abstraksi bunyi atau bunyi yang membedakan makna, berada dalam tataran langue.
Contoh: /i/-/u/: kami-kamu, /c/-/t/: cari-tari.
ALOFON : anggota dari fonem yang sama.
Contoh: /i/, [i], [I], /u/, [u], [U], [k], [?], [Ø].
FONETIK : kajian fon. Ada tiga macam fonetik, yaitu:
·         Fonetik artikulatoris : bagaimana bunyi dihasilkan oleh alat ucap manusia.
·         Fonetik akustis : arus bunyi keluar dari rongga mulut berupa gelombang bunyi.
·         Fonetik artikulatoris : bagaimana bunyi diterima indra pendengar dan syaraf pendengar.
Prosedur penghasil bunyi
o    Alat wicara, terdiri atas sisten pernafasan (di rongga dada), sistem pembunyian (di tenggorokan), dan sistem pengucapan (di mulut).
o    Aliran udara, yaitu di paru-paru, di glottal (hidung / yang menghasilkan bunyi sengal), dan di langit-langit lunak.
o    Jenis bunyi
§  Vokal, bunyi bahasa yang ditandai dengan udara dari paru-paru tidak mendapat hambatan berarti.
§  Jenis vokal
§  Posisi bibir
§  Vokal bundar : o, u, a
§  Vokal rata : i, u
§  Tinggi rendahnya lidah
§  Vokal depan : i, e (ujung lidah dinaikan)
§  Vokal pusat : e (pepet, lidah rata)
§  Vokal belakang : u, o,a (belakang lidah dinaikan)
§  Maju mundurnya lidah
§  Vokal atas : i, e (dekat dengan alveolum)
§  Vokal tengah : e (pepet, lebih mundur lagi)
§  Vokal bawah : a (jauh dari alveolum)

Peta Vokal

Depan
Pusat
Belakang
Atas
i
-
u
Tengah
e
e (pepet)
o
Bawah


a

§  Diftong : vokal yang berubah kualitasnya.
Contoh: [balai], [surau]
§  Gugus konsonan (Cluster), dua atau lebih deret konsonan yang tergolong dalam satu suku kata. Contoh: ma-kan (dua suku kata), [praktik]
§  Fonotaktik, caramerangkai fonem untuk membentuk satuan fonologis. Contoh: i-bu (v-kv), ka-sur (kv-kvk)
§  Konsonan, bunyi bahasa yang ditandai dengan udara dari paru-paru mendapat hambatan. Jenis konsonan:
§  Berdasarkan artikulator (alat ucap yang dapat digerakan) atau titik artikulasi, yaitu: bilabial, labiodental, apikodental, laminoalveolar, laminopalatal, faringal, dan glotal.
§  Berdasarkan macam-macam halangan udara yang dijumpai:
§  Konsonan hanbat : stop
§  Konsonan frikatif : gesek
§  Konsonan spiran : sengauan
§  Konsonan likwida : luncur
§  Konsonan trill : getar
§  Berdasarkan turut tidaknya pita suara bergetar
§  Konsonan bersuara : z, o, l, m, g
§  Konsonan tidak bersuara : s, f, t, k
§  Berdasarkan jalan keluarnya
§  Konsonan hidung (nasal)
§  Konsonan mulut (oral)

Klasifikasi bunyi dan cara menghasilkannya
1.     Berdasarkan ronga yang dilewati udara
1.     Bunyi oral, bunyi Yang dihasilkan dengan udara lewat rongga mulut. Contoh: [b], [d]
2.     Bunyi nasal, bunyi yang dihasilkan dengan udara lewat rongga hidung. Contoh: [m], [n]
2.     Berdasarkan ada tidaknya hambatan udara
3.     Bunyi vokal, bunyi yang dihasilkan dengan udara tanpa hambatan.
Contoh: [a], [i]
1.     Bunyi konsonan, bunyi yang dihasilkan dengan udara mengalami hambatan. Contoh: [p], [c]
3.     Berdasarkan jenis hambatan
5.     Bunyi stop atau bunyi letus, bunyi yang dihasilkan dengan udara terhenti sama sekali dan dilepaskan dengan tiba-tiba.
Contoh: [p], [b]
6.     Bunyi geser atau frikatif, bunyi yang dihasilkan dengan udara yang mengalami geseran.
Contoh: [f], [s]
7.     Bunyi afrikat atau paduan, bunyi yang dihasilkan dengan udara yang tidak terhenti sama sekali dan juga tidak mengalami geseran.
Contoh: [c], [j]
8.     Bunyi lateral atau samping, bunyi yang dihasilkan dengan udara melalui sisi lidah yang menghalangi keluarnya udara.
Contoh: [l]
9.     Bunyi getar, bunyi yang dihasilkan dengan cara udara tergetar di dalam mulut yang disebabkan oleh getaran lidah.
Contoh: [r]
10.                        Bunyi semi vokal atau luncur, bunyi yang dihasilkan dengan udara meluncur (bukannya tanpa hambatan sama sekali).
Contoh: [w], [y].
4.     Berdasarkan besar kecilnya getaran pita suara dan besarnya udara yang keluar dari paru-paru.
11.                        Bunyi bersuara, bunyi yang dihasilkan dengan udara besar sehingga pita suara mengalami getaran besar.
Contoh: [b], [g].
12.                        Bunyi tak bersuara, bunyi yang dihasilkan dengan udara kecil, sehingga pita tidak mengalami getaran besar.
Contoh: [p], [c].

5.     berdasarkan alat ucap yang menghasilkannya.
13.                        Bunyi labial, bunyi yang dihasilkan bibir atas dan bawah.
Contoh: [w], [p].
14.                        Bunyi labiodental, bunyi yang dihasilkan bibir bawah dan gigi atas.
Contoh: [f]
15.                        Bunyi apikodental, bunyi yang dihasilkan gigi atas dan bawah serta ujung lidah.
Contoh: [t].
16.                        Bunyi apikoalveolar, bunyi yang dihasilkan oleh ujung lidah dan pangkal gigi (alveolum).
Contoh: [n].
17.                        Bunyi apikopalatal, bunyi yang dihasilkan oleh ujung lidah dan langit-langit keras. Bila ujung lidah itu membalik ke arah belakang, maka bunyi yang dihasilkan adalah bunyi retrofleks.
Contoh: [d].
18.                        Bunyi laminoalveolar, bunyi yang dihasilkan oleh daun lidah (lamina) dan pangkal gigi (alveolum).
Contoh: [s].
19.                        Bunyi laminopalatal, bunyi yang dihasilkan oleh lamina dan langit-langit keras.
Contoh: [c], [j].
20.                        Bunyi dorsovelar, bunyi yang dihasilkan oleh punggung lidah (dorsum) dan langit-langit lunak (velum).
Contoh: [k], [g].
21.                        Bunyi uvula, bunyi yang dihasilkan oleh belakang lidah dan anak tekak (uvula).
Contoh: [q].
22.                        Bunyi faringal, bunyi yang dihasilkan atau yang proses penghasilannya berada di dalam rongga faring.
Contoh: [h].
23.                        Bunyi glotal, bunyi yang dihasilkan oleh pita suara dalam rongga antara kedua pita itu yang disebut glotis.
Contoh: [‘].

LABIAL DENTAL PLATAL VELAR
GLOTAL
ts
p
t
c
k

Hambatan
bs

b

d

j

g

ts
Geser
bs
f

w
0 s

z
S

z
x

y
h

L
Nasal

m
n

n n
Lateral

l

L

Getar

r


R










bilabial
Labio-dental
Dental
Alveoar
Post Alveolar
Palatal
Velar
Glottal
STOP
p, b


t, d


k, g

AFFRICATE






d

NASAL
m


n




LATERAL



I




FRICATIVE

f, v
o
s, z
r


h
SEMI-VOWEL
w








Semi-vokal
geletar
geseran
sampingan
sengau
paduan
letupan
Jenis konsonan


Tempat artikulasi
W



m

pb
Bilabial
W

v




Inbio-dental







Apiko-dental

r

l
n

td
Apiko-alveolar


r



td
Apiko-palatal (retrofleks)


sz




Lamino-alveolar
J



n
t d
td
Medio-laminal






kg
Dorso-velar

r (R)





Uvular


h




Faringal






?
Hamzah


8.     Morfologi
Morf : bentuk atau wujud yang bisa didengar, diucapkan, diujarkan. Morf ada pada tataran parole.
Morfem : abstraksi dari morf.
Alomorf : sejumlah morf yang menjadi anggota dari morfem yang sama.
Contoh: membakar bakar dibakar
menyapu sapu disapu
mencubit cubit dicubit
menggulai gulai digulai
melarang larang dilarang
Semua imbuhan yang bergaris bawa adalah anggota dari morfem yang sama, yaitu me(nasal) / me(N). artinyabisa ada, bisa tidak.
Morfologi dikaji untuk mengklasifikasi atau membeda-bedakan setiap jenis dan macam bahasa.
Jenis-jenis morfem
§  Morfem terikat, morfem yang harus digabung atau dirangkai dengan morfem lain, karena tidak dapat berdiri sendiri. Contoh: {di-}, {me-}, {juang}, dan lain-lain.
§  Morfem bebas, morfem yang dapat berdiri sendiri, walaupun tanpa harus digabung. Contoh :{pulang}, {cubit}
§  Morfem monofonemis, morfem yang terdiri dari satu fonem
Contoh : asusila-a (tidak), irasional-I (tidak), dan lain-lain.
§  Morfem polyfonemis, morfem yang terdiri dari lebih dari satu fonem. Contoh : {di-}, {-an}, {-kan}, dan lain-lain.
§  Morfem kosong (zero morfem). Contoh : Æ makan (aktif)
§  Morfem bermakna leksikal, morfem yang mempunyai makna kamus. Contoh: {juli} (bulan ketujuh tahun masehi)
§  Morfem tidak bermakna leksikal, morfem yang tidak mempunyai makna dalam kamus.
§  Morfem segmental, morfem yang bisa dilafalkan, diujarkan dengan morfem ujaran. Contoh : {di-}-d+i
§  Morfem suprasegmental, morfem yang berintonasi (memiliki lagu-lagu). Biasanya terdapat pada bahasa yang menggunakan tone language / bahasa bunyi, seperti pada bahasa cina.
§  Morfem utuh, morfem yang tidak bisa dibelah dan tidak pernah disispi. Contoh : ibu, ayah (tidak pernah disisipi)
§  Morfem terbelah, morfem yang terbelah dan dapat disispi. Contoh : gerigi- asal katanya gigi dan dapat imbuhan –er di dalamya, gemetar-asal katanya getar dan dapat imbuhan-em di dalamnya.

9.     Proses Morfologi
Proses morfologi: proses penggabungan morfem menjadi kata.
Contoh : berlari-lari, terdiri atas morfem lari, ber-, dan R
Beberapa jenis proses morfologi:
1.     Afiksasi : penambahan afiks atau imbuhan
Contoh : di + makan = prefiks
makan + an = sufiks
gemetar = getar + em = infiks
ke + ada + an = ada + ke-an = konfiks
2.     Reduplukasi : pengulangan
Contoh : rumah-rumah = rumah, R
Kemerah-merahan = ke-an, merah, R
3.     Suplisi : perubahan morfem berdasarkan waktu (seperti dalam bahasa inggris misalnya)
Contoh : go – went (pergi)
good – best (baik)
4.     Modifikasi : berubah tapi kosong
Contoh : cut-cut, put-put, memukul, menjahit, mencuci, Ø makan.
5.     Komposisi : kemajemukan atau bergabungnya dua morfim dan menimbulkan makna baru.
Contoh : rumah sakit = rumah, sakit

10.                        Dasar-Dasar Sintaksis
Sintaksis adalah penyusunan kata menjadi kalimat yang gramatikal.
Alat sintaksis adalah urutan kata (dalam bahasa latin tidak digunakan), bentuk kata, intonasi, dan kata tugas. Yang dimaksud dengan kata tugas adalah kata yang mempunyai makna gramatikal dan hanya bisa hidup hanya dalam kalimat yang gramatis.
Contoh : di, ke, dan, yang, dari, dan lain-lain.
Obyek kajian sintaksis
§  Frase, kelompok kata yang tidak membentuk hubungan predikatif dan tidak melebihi batas fungsi. Contoh : gedung baru itu(S) bagus(P) sekali.
§  Klausa, kelompok kata yang membangun hubungan predikatif yang berpotensi menjadi kalimat jika diberi intinasi akhir atau final. Klausa bersifat abstrak, tidak berwujud dan tidak dapat didengar. Contoh : saya makan (diawali dengan huruf kecil, tidak diberi intonasi akhir berupa titik, tanda seru, dan tanda tanya).
§  Kalimat, ujaran yang diapit oleh dua kesenyapan sedanglan intonasinya menunjukan bahwa ujaran tersebut telah selesai. Contoh : keluar! (termasuk dalam kalimat walaupun hanya terdiri dari satu kata, karena mempunyai intonasi akhir.
Analisis kalimat.
§  Analisis kategori, mengelompokkan kata-kata yang ada dalam kalimat berdasarkan bentuk dari perilaku kata-kata itu. Contoh : kuda tertawa (kalimat tersebut tidak dapat diterima karena kuda adalah non human), adik makan (diterima karena human).
§  Analisis fungsi, melihat kedudukan kata ini dengan kata lain. Contoh : Ali(S) makan(P) mie(O).
§  Analisis peran, contoh : Ali(S) makan(P) mie(O) – Mie(S, penderita) dimakan(P) Ali(O).

11.                        Semantik
Berasal dari bahasa latin, sema berarti tanda, semaino berarti menandai atau berarti. jangkauan semantik meliputi seluruh aspek lunguistik kecuali fonologi.
Jenis makna.
o    Makna leksikal.
§  Denotatif, makna referensial atau makna yang sesungguhnya. Contoh : tikus (hewan).
§  Konotatif, makna perluasan yang menunjukkan pada sesuatu yang lain. Contoh : tikus (koruptor).
o    Makna idiomatik, kata-kata yang disusun menjadi makna yang berlainan. Contoh : rumah sakit, narapidana.
Mengkaji perubahan makna.
o    Makna peyoratif, perubahan makna jelek menjadi baik. Contoh : pelacur-WTS, PSK.
o    Hubungan antarmakna
Hiponim, sinonim, antonim, meronim.
Kajian bahasa meliputi fonologi, morfologi, sitaksis, wacana-pendekatan pragmatis (bahasa dan konteks), dan semantik.

12.                        Wacana
Bergantung pada ciri konteks atau situasinya. Contoh : Aduh cantiknya! (kalimat tersebut akan menimbulkan reaksi yang berbeda jika diucapkan pada gadis usia 17 tahun dengan nenek yang berusia 80 tahun). Konteks dari wacana ini adalah berupa waktu, tempat, situasi, kondisi, dan topik.
tekstur juga menjadi kajian dari wacana. tekstur ini adalah hubungan yang logis, sistematis antara hubungan wacana.
Contoh : 1. Pak Joni membeli mobil baru.
2. Mazda itu berwarna merah.
3. Merah adalah warna favorit remaja sekarang.
(1) dan (2) masih berhubungan, tetapi (3) sudah lepas.
Penanda kohesi.
Contoh : Pak Joni membeli mobil baru, mazda itu berwarna merah.
Penanda koherensi.
Contoh : 1. Matahari Jakarta serasa di ubun-ubun.
2. Ratusan pemuda bergoyang dalam irama jazz.
membangun koherensi dengan syarat pembaca harus membayangkan mengenai maksud daru dua kalimat tersebut (ada konser musik jazz saat cuaca panas dan para penontonnya bergoyang).
Dikotomi Lingiustika

 Waktu        : 6 menit
 Kata Kunci          : 1). ► Deskriptif
 ► Preskriptif
                      2). ► Murni   
       ► Terapan
  3). ► Diakronis
       ► Sinkronis 
  4). ► Makro
       ► Mikro    
  5). ► Tipologis  
       ► Historis    


Pemahaman          :   Di dalam ilmu bahasa itu terdapat beberapa pembahasan yang harus di  kelompokkan antara lain :
1.           ► Deskriptif        : Ilmu Bahasa itu mempunyai sifat menggambarkan/menguraikan sesuatu hal menurut apa adanya pada masa tertentu
Preskriptif          : Ilmu bahasa itu di keluarkan lewat tuturan. Dalam bagian terdahulu sudah disebutkan bahwa bahasa adalah sebuah sistem bunyi. Jadi, bahasa itu adalah apa yang dilisankan, bahasa yang diucapkan, bukan yang dituliskan. Namun, linguistik sebenarnya tidak menutup diri terhadap bahasa tulis, sebab seperti sudah disebutkan juga pada bagian terdahulu bahwa apa pun yang berkenaan  dengan bahasa adalah juga menjadi objek linguistik.
2.           ► Murni    : Ilmu bahasa itu asli tanpa rekayasa, sebab bahasa itu langsung keluar dari pertuturan kita, sehingga bahasa tidak dapat terkontaminasi oleh orang lain.
► Terapan  : Ilmu bahasa itu  mempunyai sifat membutuhkan, sebab ilmu   bahasa pastilah membutuhkan ilmu dari bahasa lain. Jadi ilmu bahasa itu mengadopsi bahasa lain. Linguitik terapan berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau hubungan bahasa dengan faktor-faktor di luar bahasa untuk kepentingan masalah-masalah praktis yang terdapat di dalam masyarakat.
3.           ► Diakronis  : Ilmu bahasa itu berdasarkan sejarah, bersifat sejarah behasa. Sebab bahasa itu mengalami tiga tahap perkembangan, yaitu tahap pertama yang disebut tahap spekulasi, tahap yang kedua yang disebut tahap observasi dan klasifikasi, dan tahap ketiga yang disebut tahap perumusan teori. Pada tahap spekulasi, pernyataan-pernyataan tentang bahasa tidak didasarkan pada data empiris, melainkan pada dongeng atau cerita rekaan belaka. Pada tahap klasifikasi dan observasi para ahli bahasa mengadakan pengamatan dan penggolongan terhadap bahasa-bahasa yang diselidiki, tetapi belum sampai merumuskan teori.
     ► Sinkronis  : bahasa yang mempunyai struktur. Sebab mengkaji bahasa pada masa yang terbatas.
4.           ► Makro    : linguistik itu bersifat besar. Besar dalam arti menyelidiki bahasa dalam kaitannya dengan faktor-faktor di luar bahasa, lebih banyak membahas faktor luar-bahasanya itu dari pada struktur internal bahasa.
► Mikro     : Linguistik itu bersifat kecil. Bisa dikatakan ilmu bahasa kecil mengarahkan kajiannya pada struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal bahasa pada umumnya.
5.           ► Tipologis   :  Ilmu pembagian menurut kesamaan tipe atau tipe-tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa. Tipe ini merupakan unsur tertentu yang dapat timbul berulang-ulang dalam suatu bahasa.
► Historis     :  Dalam pembahasan kali ini, historis itu sebenarnya sama halnya denga diakronis. Tetapi kalau historis ini lebih menonjolkan sejarah dari awal mula perkembangan linguistik. Contoh : sejarah linguistik mempunyai beberapa babak antara lain, Linguistik Tradisional, Linguistik Struktural dan Linguistik Tranformasional.


HUBUNGAN LINGUISTIKA DENGAN ILMU LAIN

Waktu             : 4 menit 46 detik
Kata Kunci    : 1). Antropologi Linguistik
                          2). Psikolinguistik
  3). Sosiolinguistik
  4). Neurolinguistik
              5). Humanistik Informatika                
            
Pemahaman            :
1).  Etno Linguistik atau Antropologi Linguistik adalah suatu ilmu antropologi yang pada asal mulanya erat-erat bersangkutan dengan ilmu antropologi bahkan penelitiannya yang berupa daftar-daftar kata-kata, penulisan tentang cara dan tata bahasa dari beratus-ratus bahasa suku bangsa yang tersebar diberbagai tempat dimuka bumi ini, bertumpu bersama-sama dengan bahan kebudayaan suku bangsa. Prehistori mempelajari sejarah perkembangan dan persebaran semua kebudayaan manusia dibumi dalam zaman manusia mengenal huruf. Dalam ilmu sejarah, diseluruh waktu dari perkembangan kebudayaan umat manusia dimulai saat terjadinya makhluk manusia, yaitu kira-kira 800.000 tahun lalu hingga sekarang dibagi kedalam dua bagian:
1. Masa sebelum manusia mengenal huruf yang dalam ilmu pengetahuan disebut zaman prehistoris (sebelum sejarah).
2. masa setelah manusia mengenal huruf disebut zaman historis (sejarah).
Etnologi adalah ilmu bagian yang mencoba mecapai pengertian mengenai asas-asas manusia, dengan mempelajari kebudayaan-kebudayaan dalam kehidupan masyarakat dari sebanyak mungkin suku bangsa yang tersebar diseluruh muka bumi pada masa sekarang ini.
Descriptive integration dalam etnologi mengolah dan mengintrogasikan menjadi satu hasil-hasil penelitian dari sub-sub ilmu antropologi fisik, etnolinguistik, ilmu prehistoris dan etnografi. Descriptive integration selalu mengenai suatu daerah tertentu. Bahkan keterangan pokok yang diolah kedalam descriptive integratiom dari daerah itu adalah terutama bahan keterangan etnografi; sedangkan bahan seperti fosil (bahan dari galeoantropologi), ciri ras (bahan dari samatologi), artefak (bahan dari prehistoris) bahasa likal (bahan dari etnolinguistik), diolah menjadi satu dan diintegrasikan menjadi satu dengan etnografi tadi
.

2).  Psikolinguistik adalah studi mengenai manusia sebagai pemakai bahasa, yaitu studi mengenai sistem-sistem bahasa yang ada pada manusia yang dapat menjelaskan cara manusia dapat menangkap ide-ide orang lain dan bagaimana ia dapat mengekspresikan ide-idenya sendiri melalui bahasa, baik secara tertulis ataupun secara lisan. Apabila dikaitkan dengan keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa, hal ini berkaitan dengan keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Pendapat di atas pun secara tersurat menyatakan bahwa Psikolinguistik pun mempelajari pemerolehan bahasa oleh manusia sehingga manusia mampu berbahasa. Lebih jauhnya bisa berkomunikasi dengan manusia lain, termasuk tahapan-tahapan yang dilalui oleh seorang anak manakala anak belajar berbahasa sebagaimana dikemukakan

3).  Sosiolinguistik adalah cabang linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat penuturnya. Ilmu ini merupakan kajian kontekstual terhadap variasi penggunaan bahasa masyarakat dalam sebuah komunikasi yang alami. Variasi dalam kajian ini merupakan masalah pokok yang dipengaruhi atau mempengaruhi perbedaan aspek sosiokultural dalam masyarakat. Kelahiran Sosiolinguistik merupakan buah dari perdebatan panjang dan melelahkan dari berbagai generasi dan aliran. Puncak ketidakpuasan kaum yang kemudian menamakan diri sosiolinguis ini sangat dirasakan ketika aliran Transformasional yang dipelopori Chomsky tidak mengakui realitas sosial yang sangat heterogen dalam masyarakat. Oleh Chomsky dan pengikutnya ini, heterogenitas berupa status sosial yang berbeda, umur, jenis kelamin, latar

Sosiolinguistik konsep bahasa adalah alat yang fungsinya menyampaikan pikiran saja dianggap terlalu sempit. Chaer (2004:15) berpendapat bahwa fungsi yang menjadi persoalan Sosiolingustik adalah dari segi penutur, pendengar, topik, kode, dan amanat pembicaraan. Maksud dari pernyataan tersebut pada intinya bahwa fungsi bahasa akan berbeda apabila ditinjau dari sudut pandang yang berbeda sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
Adapun penjelasan tentang fungsi-fungsi bahasa tersebut adalah sebagai berikut:
1. Segi penutur
2. Segi pendengar
3. Segi topik
4. Segi kode
5. Segi amanat
Ciri umum sebuah bahasa adalah adanya pemakai atau Komunikan. Hal inilah yang menyebabkan sebuah bahasa mempunyai sifat abitrer dan konvensional, dengan kata lain pemahaman bahasa yang berbeda-beda tiap masyarakat akan menyebabkan adanya variasi bahasa. Dalam hubungannya antara Linguistik dan Sosiologi akan membaha tentang variasi bahasa tersebut. Bila dideekripsikan, sosiologi akan mempelajari masalah hubungan variasi bahasa ditinjau dari tingkah laku masysrakat, sebaliknya Linguistik akan mempelajari variasi bahasa tersebut ditinjau dari aspek kebahasaan.
4).  Neuro-Linguistic Programming, nama yang meliputi tiga komponen yang paling berpengaruh yang terlibat dalam memproduksi pengalaman manusia: neurologi, bahasa dan pemrograman. The neurological system regulates how our bodies function, language determines how we interface and communicate with other people and our programming determines the kinds of models of the world we create. Sistem saraf mengatur bagaimana fungsi tubuh kita, bahasa menentukan bagaimana kita antarmuka dan berkomunikasi dengan orang lain dan program kami menentukan jenis model dunia yang kita ciptakan. Neuro-Linguistic Programming describes the fundamental dynamics between mind (neuro) and language (linguistic) and how their interplay effects our body and behavior (programming). Neuro-Linguistic Programming menjelaskan dinamika mendasar antara pikiran (neuro) dan bahasa (linguistik) dan bagaimana mereka saling efek tubuh kita dan perilaku (pemrograman).
NLP is a pragmatic school of thought - an 'epistemology' - that addresses the many levels involved in being human. NLP adalah sebuah sekolah pemikiran pragmatis - sebuah 'epistemologi' - yang membahas berbagai tingkatan terlibat dalam manusia. NLP is a multi-dimensional process that involves the development of behavioral competence and flexibility, but also involves strategic thinking and an understanding of the mental and cognitive processes behind behavior. NLP adalah suatu proses multi-dimensi yang melibatkan pengembangan kompetensi perilaku dan fleksibilitas, tetapi juga melibatkan pemikiran strategis dan pemahaman proses mental dan kognitif belakang perilaku. NLP provides tools and skills for the development of states of individual excellence, but it also establishes a system of empowering beliefs and presuppositions about what human beings are, what communication is and what the process of change is all about. NLP menyediakan alat dan keterampilan untuk pengembangan keunggulan masing-masing negara, tetapi juga menetapkan sistem kepercayaan memberdayakan dan prasangka tentang apa yang manusia, apa komunikasi dan apa proses perubahan adalah semua tentang. At another level, NLP is about self-discovery, exploring identity and mission. Di tingkat lain, NLP adalah tentang self-discovery, menjelajahi identitas dan misi. It also provides a framework for understanding and relating to the 'spiritual' part of human experience that reaches beyond us as individuals to our family, community and global systems. Hal ini juga menyediakan kerangka kerja untuk memahami dan berhubungan dengan bagian 'spiritual' dari pengalaman manusia yang mencapai melampaui kita sebagai individu untuk keluarga kita, masyarakat dan sistem global. NLP is not only about competence and excellence, it is about wisdom and vision. NLP bukan hanya tentang kompetensi dan keunggulan, ini adalah tentang kebijaksanaan dan visi.
5).  Humanistik Informatika yaituThe notion that computing in general is irrelevant to humanistic research is of course a false one. Gagasan bahwa komputasi pada umumnya tidak relevan dengan penelitian humanistik ini tentu saja palsu. Computers provide useful and elegant tools for doing what we have always been doing. Komputer menyediakan dan elegan alat yang berguna untuk melakukan apa yang kita selalu lakukan. We need them just like we needed paper and libraries in the past. Kami membutuhkan mereka sama seperti kita membutuhkan kertas dan perpustakaan di masa lalu. The hostility towards computers in the Humanities, when separated from the general technophobia of traditional humanists, is usually concerned with methodological issues, and, through those, with far-reaching questions about the nature of humanistic research. Permusuhan terhadap komputer dalam Humaniora, ketika terpisah dari technophobia umum humanis tradisional, biasanya berkaitan dengan masalah metodologi, dan, melalui mereka, dengan pertanyaan-mencapai jauh tentang sifat penelitian humanistik.
The "nature of humanistic research" is in itself a very questionable phrase. "Sifat penelitian humanistik" itu sendiri sebuah frase yang sangat dipertanyakan. Does humanistic research have a consistent nature, eg one that would distinguish it from the social or natural sciences? Apakah penelitian humanistik memiliki sifat konsisten, misalnya yang akan membedakannya dari ilmu-ilmu sosial atau alam? CP Snow, in his famous 1959 essay on the cultural conflict between the Humanities and Science, perceived a gap between the two traditions. But from my own, much more recent, experience, I would say that there seems to be a larger gap within the Humanities itself, one that has perhaps become visible only some time after Snow's essay, although divisions like the one between "lang." CP Snow, pada tahun 1959-nya esai terkenal pada konflik budaya antara Humaniora dan Sains, dirasakan kesenjangan antara dua tradisi pengalaman. Tapi saya dari jauh sendiri lebih baru,,, aku akan mengatakan bahwa tampaknya ada celah yang lebih besar dalam Humaniora sendiri, yang mungkin telah menjadi terlihat hanya beberapa saat setelah's esai Snow, walaupun divisi seperti yang antara "lang." and "lit." dan "menyala." are not new at all. tidak baru sama sekali. This gap is especially obvious in those parts of the Humanities that were affected by the turns of post-structuralism and critical theory, but it is also a gap with much older roots in intellectual history than those recent developments. Kesenjangan ini terutama jelas di bagian-bagian Humaniora yang dipengaruhi oleh putaran pasca-strukturalisme dan teori kritis, tetapi juga merupakan celah dengan yang lebih tua akar banyak dalam sejarah intelektual daripada perkembangan terakhir. In this present situation one type of humanist may find much more common ground with scientists and mathematicians than with humanists belonging to another theoretical school. Dalam tipe satu situasi kini humanis mungkin menemukan banyak umum tanah yang lebih dengan para ilmuwan dan matematikawan dibandingkan dengan humanis milik sekolah lain teoritis. Insofar as this fault line follows the humanistic disciplines (broadly speaking: history, aesthetics, linguistics, philology, philosophy) then my own discipline, (literary) aesthetics, along with philosophy, most clearly belong to the anti-scientific side of the fence (yes, I know that this is a very simplified picture). Sejauh ini garis patahan mengikuti disiplin humanistik (secara umum: sejarah, estetika, linguistik, filologi, filsafat) maka disiplin sendiri, (sastra) estetika, bersama dengan filosofi, paling jelas berasal dari sisi anti-ilmiah pagar ( ya, aku tahu bahwa ini adalah gambaran yang sangat disederhanakan).

























TUGAS LINGUISTIK UMUM




OLEH

RUDI UMAR SUSANTO

102074026

KELAS PA 2010



UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

S1 PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA