Senin, 30 April 2012

Pentingnya Pacaran Bagi Remaja


Ilustrasi

Inforedia.com-Ketika anda menjalin suatu hubungan dengan lain jenis dan disertai rasa sayang dan kesetiaan adalah penjelasan yang tepat untuk kata pacaran. Bisa dikatakan 99,9% remaja pasti mengalami masa ini. Hal ini memang wajar karena pacaran memang salah satu masa yang harus dilewati dalam kehidupan ini.

Memang sih bisa saja kita menikah tanpa melewati masa ini tapi pertimbangkan resiko yang bisa kamu alami. Ketika kamu bermasalah dan merasa tidak ada kecocokan dengan pasangan kamu, apa kamu akan dengan mudahnya cerai??

Pacaran sangat penting untuk memperkenalkan kamu pada karakter pasangan dan masalah kehidupan dengan pasangan. Dalam hubungan ini ketika memang sudah tidak ada kecocokan kamu bisa aja putus. Mendingan putus karena pacaran dari pada cerai menjadi janda/duda. Karena dimasyarakat, janda atau duda pasti sudah tidak Virgin lagi dan pasti beban psikologis kamu lebih berat.

Pacaran yang kami maksud disini adalah pacaran yang sebenarnya. Pacaran yang memang bertujuan untuk hal itu. Sering sekali remaja terjebak dengan istilah ini untuk mengenal pasangan hingga menjerumus ke hal-hal negatif. Sering sekali kasus kehamilan diluar nikah yang justru merusak masa depan remaja.

Untuk itu berhati-hatilah ketika berpacaran. Tetap jaga sikap dan kedekatan. Jika memang pasangan kamu benar-benar sayang ke kamu, gak bakal dia mau merusak masa depan kamu.
 
dikutip: http://www.inforedia.com/2011/01/pentingnya-pacaran-bagi-remaja.html

PIK - KRR Pusat Informasi dan Konsultasi Kesehatan Reproduksi Remaja


PIK KRR merupakan Wadah bagi remaja untuk mendapatkan informasi,konsultasi dan konseling  ,kesehatan reproduksi
Mengapa perlu ada PIK KRR
       Terjadinya gap antara kebutuhan remaja tentang informasi dan pelayanan KRR dengan ketersediaan pelayanan yang ada
       Remaja membutuhkan pelayanan yang ramah pada remaja (youth friendly)


Pendirian dan pengembangan pusat-pusat informasi dan konsultasi KRR :
    1. di sekolah, Pondok Pesantren
    2. di puskesmas/posyandu
    3. di pusat-pusat kegiatan remaja
    4. pusat-pusat rehabilitasi NAPZA

Pelayanan KRR yang “ramah remaja “
    1. jam pelayanan yang sesuai
    2. ruangan yang nyaman dan terjaga kerahasiaannya
3.       penyedia jasa yang sensitif, ramah, menghormati hak remaja, memahami & mendukung KRR
PIK KRR juga merupakan Sebuah unit kegiatan di bawah naungan Kwartir yang menaruh kepedulian terhadap perkembangan remaja dengan fokus utama menaruh perhatian terhadap :
       Kesehatan Reproduksi,
       Pergaulan bebas/Free Sex,
       Narkoba, IMS, dan HIV/AIDS
       Problematika remaja

Kenapa Pramuka dipilih
       Usia sasaran yang jelas dari Siaga sampai orang dewasa
       Mempunyai jaringan yang kuat dari tingkat Gugusdepan sampai Nasional
       Mempunyai peluang yang besar untuk mengembangkan PIK-KRR









Anggota PIK-KRR di sebut Relawan. Relawan di bagi atas golongan :
1.       Anggota Tetap (Pengurus)                
Anggota yang mengelola sehari-hari PIK-KRR (berusia 17 - 30 tahun)
2.       Anggota Tidak Tetap (Relawan)
Anggota PIK-KRR yang bukan pengurus berusia min 10 tahun
3.      Anggota Istimewa (Praktisi yang terikat dg PIK KRR)
4.      Anggota Dewan Penasehat dan Pembina (orang dewasa)
5.      Anggota Widya Karya (Purna Pengurus yang berusia di atas 30 tahun atau sudah menikah)

       PIK-KRR diperkenankan mengeluarkan nama dan logo masing-masing PIK KRR
       Surat-menyurat melalui Kwartir dengan menggunakan kop serta stempel Kwartir
   (secara detail diatur dalam Pedoman Penyelenggaraan PIK KRR yang dikeluarkan oleh Kwarda Jatim dengan Surat Keputusan Kwarda Jatim Nomor : 58 dan 59 Tahun 2007)
















Rounded Rectangle: KWARTIR








 













Rounded Rectangle: DKC,Rounded Rectangle: PIK KRR,Rounded Rectangle: LINTAS SEKTOR :
1. BKKBN
2. DINKES
3. DEPAG
4. DIKNAS
5. DINSOS
6. DLL 

,Rounded Rectangle: DONATUR &
SPONSOR
 












                         = Garis Pembinaan
                            
                         = Garis Koordinasi Kemitraan





jenis narkoba, sabu-sabu

Jenis-jenis Narkoba Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika dan Obat/Bahan berbahaya yang telah populer beredar dimasyarakat perkotaan maupun di pedesaan, termasuk bagi aparat hukum. Sebenarnya dahulu kala masyarakat juga mengenal istilah madat sebagai sebutan untuk candu atau opium, suatu golongan narkotika yang berasal dari getah kuncup bunga tanaman Poppy yang banyak tumbuh di sekitar Thailand, Myanmar dan Laos (The Golden Triangle) maupun di Pakistan dan Afganistan.
Selain Narkoba, istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan RI adalah NAPZA yaitu singkatan dari Narkotika, Pasikotropika dan Zat adiktif lainnya. Semua istilah ini sebenarnya mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai risiko yang oleh masyarakat disebut berbahaya yaitu kecanduan (adiksi).
Narkoba atau NAPZA merupakan bahan/zat yang bila masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi tubuh terutama susunan syaraf pusat/otak sehingga bilamana disalahgunakan akan menyebabkan gangguan fisik, psikis/jiwa dan fungsi sosial. Karena itu Pemerintah memberlakukan Undang-Undang untuk penyalahgunaan narkoba yaitu UU No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika dan UU No.22 tahun 1997 tentang Narkotika.
Golongan Psikotropika adalah zat atau obat baik alami maupun sintetis namun bukan Narkotika yang berkhasiat aktif terhadap kejiwaan (psikoaktif) melalui pengaruhnya pada susunan syaraf pusat sehingga menimbulkan perubahaan tertentu pada aktivitas mental dan perilaku.
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang akan menyebabkan perubahan kesadaran, mengurangi sampai menghilangkan rasa sakit dan dapat menimbulkan ketergantungan (adiksi).
Jenis Narkotika yang sering disalahgunakan adalah morfin, heroin (putauw), petidin, termasuk ganja atau kanabis, mariyuana, hashis dan kokain.
Sedangkan jenis Psikotropika yang sering disalahgunakan adalah amfetamin, ekstasi, shabu, obat penenang seperti mogadon, rohypnol, dumolid, lexotan, pil koplo, BK, termasuk LSD, Mushroom.
Zat adiktif lainnya disini adalah bahan/zat bukan Narkotika & Psikotropika seperti alkohol/etanol atau metanol, tembakau, gas yang dihirup (inhalansia) maupun zat pelarut (solven).
Sering kali pemakaian rokok dan alkohol terutama pada kelompok remaja (usia 14-20 tahun) harus diwaspadai orangtua karena umumnya pemakaian kedua zat tersebut cenderung menjadi pintu masuk penyalahgunaan Narkoba lain yang lebih berbahaya (Putauw).

Remaja Paling Rentan Tertular HIV/AIDS

JAKARTA, KOMPAS.com — Dari kasus yang terdeteksi oleh Departemen Kesehatan didapatkan bahwa jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS terhitung sejak 1987-akhir Desember 2008 di Indonesia adalah 22.664 kasus, dengan rincian kasus HIV 16.110 kasus dan kasus AIDS 6.554 kasus. Dari jumlah tersebut telah ada 3.362 kasus kematian.
“Sekarang ini yang paling berisiko terkena HIV/AIDS adalah para remaja yang masih belum paham bahayanya,” kata Koordinator Kampanye Yayasan AIDS Indonesia Adrian Yulianto saat Yayasan AIDS Indonesia menggelar “Pos Informasi Road Mall to Mall” di ITC Cempaka Mas Jakarta, Jumat (24/4).
Untuk kegiatan tersebut, Yayasan AIDS Indonesia menghadirkan grup vokal Pasto sebagai bintang tamu sekaligus duta Yayasan AIDS Indonesia. Pasto dinilai memiliki komitmen kuat untuk turut menyosialisasikan bahaya HIV/AIDS pada anak muda atau remaja di Indonesia. Kegiatan yang melibatkan Pasto tersebut mengangkat tema “Stop AIDS, Before AIDS Stop Your Life”.
Kegiatan yang berupaya merangkul remaja di Indonesia ini bertujuan untuk memperkenalkan pada mereka tentang perilaku yang dapat meningkatkan risiko tertular HIV/AIDS, antara lain, memakai jarum narkoba suntik secara bergantian dan melakukan hubungan seksual yang berisiko tinggi.
Kasus HIV/AIDS yang muncul ke permukaan sangat kecil dibandingkan jumlah kasus yang sebenarnya. Hal ini disebabkan orang dengan HIV masih tampak sehat sampai 5-10 tahun bahkan lebih jika ia menggunakan obat antiretroviral (ARV) tanpa orang lain tahu.
Menurut perkiraan Badan Kesehatan Dunia (WHO), jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia sudah sekitar 169.000-216.000. Remaja yang masih rentan dalam pergaulan yang sangat bebas di era modern ini perlu mendapat masukan mengenai bahaya HIV/AIDS dan bagaimana cara penularannya.
“Remaja merupakan sasaran empuk untuk menjadi konsumen pelanggan narkotika dan industri seks saat ini. Masalah inilah dapat merusak perilaku sehat menjadi perilaku berisiko dalam penularan Infeksi Menular Seksual,” kata Adrian Yulianto.
Dikutip: http://azalea.student.umm.ac.id/remaja-paling-rentan-tertular-hivaids/

SEX BEBAS REMAJA DAN PERGAULAN BEBAS

sex bebas remaja
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metode coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukan sering menimbulkan kekhawatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orangtuanya.
Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik. Dalam mempersiapkan generasi muda juga sangat tergantung kepada kesiapan masyarakat yakni dengan keberadaan budayanya. Termasuk didalamnya tentang pentingnya memberikan filter tentang perilaku-perilaku yang negatif, yang antara lain; minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, sex bebas, dan lain-lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit HIV/AIDS.
Sekarang ini zaman globalisasi. Remaja harus diselamatkan dari globalisasi. Karena globalisasi ini ibaratnya kebebasan dari segala aspek. Sehingga banyak kebudayaan-kebudayaan yang asing yang masuk. Sementara tidak cocok dengan kebudayaan kita. Sebagai contoh kebudayaan free sex itu tidak cocok dengan kebudayaan kita.
Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya.
Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja yang sedang jatuh cinta, orangtua hendaknya bersikap seimbang, seimbang antar pengawasan dengan kebebasan. Semakin muda usia anak, semakin ketat pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian agar mereka tidak ketakutan dengan orangtua yang dapat menyebabkan mereka berpacaran dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia makin meningkat, orangtua dapat memberi lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus dijaga agar mereka tidak salah jalan. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang bermanfaat.
Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja sama orangtua dengan anak. Misalnya, ketika orangtua tidak setuju dengan pacar pilihan si anak. Ketidaksetujuan ini hendaknya diutarakan dengan bijaksana. Jangan hanya dengan kekerasan dan kekuasaan. Berilah pengertian sebaik-baiknya. Bila tidak berhasil, gunakanlah pihak ketiga untuk menengahinya. Hal yang paling penting di sini adalah adanya komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Orangtua hendaknya menjadi sahabat anak. Orangtua hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi dua arah dengan sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan masalahnya kepada orangtua.
Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis di masa kini, orangtua hendaknya memberikan bimbingan pendidikan seksual secara terbuka, sabar, dan bijaksana kepada para remaja. Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual. Orangtua hendaknya memberikan teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan. Dengan memiliki latihan kemoralan yang kuat, remaja akan lebih mudah menentukan sikap dalam bergaul. Mereka akan mempunyai pedoman yang jelas tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh dikerjakan. Dengan demikian, mereka akan menghindari perbuatan yang tidak boleh dilakukan dan melaksanakan perbuatan yang harus dilakukan.
Berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Celakanya, perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkawinan. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum baik di pondokan atau kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius. Pakar seks juga specialis Obstetri dan Ginekologi Dr. Boyke Dian Nugraha di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar lima persen pada tahun 1980-an, menjadi dua puluh persen pada tahun 2000. Kisaran angka tersebut, kata Boyke, dikumpulkan dari berbagai penelitian di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu dan Banjarmasin. Bahkan di pulau Palu, Sulawesi Tenggara, pada tahun 2000 lalu tercatat remaja yang pernah melakukan hubungan seks pranikah mencapai 29,9 persen.
Kelompok remaja yang masuk ke dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 17-21 tahun, dan umumnya masih bersekolah di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau mahasiswa. Namun dalam beberapa kasus juga terjadi pada anak-anak yang duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tingginya angka hubungan seks pranikah di kalangan remaja erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah aborsi saat ini, serta kurangnya pengetahuan remaja akan reproduksi sehat. Jumlah aborsi saat ini tercatat sekitar 2,3 juta, dan 15-20 persen diantaranya dilakukan remaja. Hal ini pula yang menjadikan tingginya angka kematian ibu di Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai negara yang angka kematian ibunya tertinggi di seluruh Asia Tenggara.
Dari sisi kesehatan, perilaku seks bebas bisa menimbulkan berbagai gangguan. Diantaranya, terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Selain tentunya kecenderungan untuk aborsi, juga menjadi salah satu penyebab munculnya anak-anak yang tidak diinginkan. Keadaan ini juga bisa dijadikan bahan pertanyaan tentang kualitas anak tersebut, apabila ibunya sudah tidak menghendaki. Seks pranikah, lanjut Boyke juga bisa meningkatkan resiko kanker mulut rahim. Jika hubungan seks tersebut dilakukan sebelum usia 17 tahun, risiko terkena penyakit tersebut bisa mencapai empat hingga lima kali lipat.
Sekuat-kuatnya mental seorang remaja untuk tidak tergoda pola hidup seks bebas, kalau terus-menerus mengalami godaan dan dalam kondisi sangat bebas dari kontrol, tentu suatu saat akan tergoda pula untuk melakukannya. Godaan semacam itu terasa lebih berat lagi bagi remaja yang memang benteng mental dan keagamaannya tidak begitu kuat. Saat ini untuk menekankan jumlah pelaku seks bebas-terutama di kalangan remaja-bukan hanya membentengi diri mereka dengan unsur agama yang kuat, juga dibentengi dengan pendampingan orang tua dan selektivitas dalam memilih teman-teman. Karena ada kecenderungan remaja lebih terbuka kepada teman dekatnya ketimbang dengan orang tua sendiri.
Selain itu, sudah saatnya di kalangan remaja diberikan suatu bekal pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah, namun bukan pendidikan seks secara vulgar. Pendidikan Kesehatan Reproduksi di kalangan remaja bukan hanya memberikan pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual dan sebagainya. Dengan demikian, anak-anak remaja ini bisa terhindar dari percobaan melakukan seks bebas. Dalam keterpurukan dunia remaja saat ini, anehnya banyak orang tua yang cuek bebek saja terhadap perkembangan anak-anaknya. Kini tak sedikit orang tua dengan alasan sibuk karena termasuk tipe “jarum super” alias jarang di rumah suka pergi; lebih senang menitipkan anaknya di babby sitter. Udah gedean dikit di sekolahin di sekolah yang mahal tapi miskin nilai-nilai agama.
Acara televisi begitu berjibun dengan tayangan yang bikin ‘gerah’, Video klip lagu dangdut saja, saat ini makin berani pamer aurat dan adegan-adegan yang bikin dek-dekan jantung para lelaki. Belum lagi tayangan film yang bikin otak remaja teracuni dengan pesan sesatnya. Ditambah lagi, maraknya tabloid dan majalah yang memajang gambar “sekwilda”, alias sekitar wilayah dada; dan gambar “bupati”, alias buka paha tinggi-tinggi. Konyolnya, pendidikan agama di sekolah-sekolah ternyata tidak menggugah kesadaran remaja untuk kritis dan inovatif.
dikutip: http://azalea.student.umm.ac.id/dampak-pergaulan-bebas-bagi-remaja/

Pengaruh Internet untuk “ Pelajar “

Seiring meningkatnya Sumber Daya Manusia di zaman era Globalisasi ini, yang semakin melesat, seperti Perubahan teknologi di masyarakat semakin canggih, sehingga masyarakat dapat mengetahui informasi secara meluas. Dan masyarakat juga dapat mempermudah berinteraksi ataupun berkomunikasi dengan orang lain maupun orang yang memilik jarak yang cukup jauh.
Perkembangan teknologi di era globalisasi yang modern ini sudah melesat tinggi entah, siapapun, dan dimanapun mereka dapat meng-akses media teknologi yang sudah canggih dan beragam macam tersedia, salah satu medianya adalah media internet yang dapat membantu masyarakat atau para pelajar mempelajari ataupun mengetahui informasi seputar kebudayaan, teknologi, dan lain-lain  yang ada di Indonesia maupun informasi yang belum diketahuinya.
Karena jejaring di internet sudah meluas hingga kemanca Negara, tidak hanya orang dewasa saja yang dapat mengakses aplikasi internet di zaman yang sudah modern dan sistem pembelajaran yang sudah modern serta canggih membuat pelajar secara cepat dapat mempelajari cara penggunaan aplikasi internet, sehingga para pelajar tingkat SD, sudah pandai dalam penggunaan media internet. Semakin lama mereka pun akan semakin berkembang mengikuti perkembangan yang sedang ‘trend’  dan mereka dapat mengetahui jejaring apa saja yang telah tersedia.
Maka dari itu di zaman yang sudah modern serta canggih ini, internet dibutuhkan oleh masyarakat dan khususnya pelajar, untuk memberikan ataupun mendapatkan berbagai informasi. Sehingga mempermudah pembelajaran, selain para pelajar mendapatkan pengetahuan dari sekolah,  pelajarpun dapat menambah pengetahuan   dari cara mereka mencari di media internet, Sehingga pengetahuan mereka pun semakin meluas. Maka hal seperti ini sangat berpengaruh untuk pelajar.
Tetapi dunia  internet juga mengandung  beberapa hal-hal yang positif maupun hal-hal yang negatif, maka manfaatkan lah aplikasi-aplikasi yang sudah tersedia sebaik-baiknya, jangan menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut dengan cara menyala gunakan penggunaan jejaring yang tersedia di media Internet.
Sedangkan difinisi dari internet merupakan teknologi yang dirangkai ataupun diciptakan oleh manusia, internet juga merupakan suatu media yang dapat memudahkan kita untuk memperoleh atau mencari berbagai macam informasi yang meluas sampai kemanca negara.
Pada saat ini pengunaan internet sudah meluas dari masyarakat, pelajar tingkatan SD sampai tinggkatan tertinggi menggunakan dan membutuhkan internet sebagai bahan pembantu dalam sistem pembelajaran yang sudah semakin canggih dan modern. Sehingga internet merupakan kebutuhan yang terbilang penting dalam sehari-hari.
Internet juga dapat membantu kita untuk belajar bersosialisasi dengan orang lain, dan internet juga dapat membantu kita untuk mengetahui banyak informasi dari berbagai negara di seluruh dunia. Tetapi disisi lain internet juga dapat mempengaruhi nilai-nilai prestasi pelajar. Karena internet memiliki sifat ketergantungan, dan dampak-dampak negatif serta dampak-dampak positif seperti :
1) Dampak-dampak positif dari penggunaan internet.
a) Internet dapat memberikan informasi yang luas dan dapat menunjang proses pembelajaran dari sistem pembelajarannya sudah modern.
b) Internet juga dapat memberikan informasi yang lebih menarik karena terdapat animasi-animasi yang menarik perhatian si pengguna untuk melihat serta membacanya.
c) Banyak informasi yang tersedia di internet dan mudah untuk mendapatkanny, selain itu pelajar lebih sering mencari informasi di media internet, hal seperti merupakan salah satu pengaruh yang dapat mempengaruhi nilai-nilai prestasinya, karena pelajar secara cepat dapat memperoleh informasi yang terupdate di media.
d) Tidak hanya untuk pendidikan saja, selain untuk pendidikan, internet juga menyuguhkan berbagai macam jejaring sosial yang mudah didapat, sehingga berguna untuk kita mengetahui cara bersosialisasi dengan orang lain.
e) Dan internet berguna untuk pertukaran data-data ataupun bertukar informasi dengan menggunakan media yang dapat di akses seperti: E-mail, Facebook, Twitter dan sebagainya, karena murah dan cepat di terima ataupun dikirim.
2) Dampak-dampak negatif dari penggunaan internet
a) Kejahatan
Kejahatn yang sering dilakukan seseorang dengan menggunakan sarana yang telah tersedia di media internet.
b) Penipuan
Banyak orang yang tertarik dengan penawaran dan pemesanan yang tersedia di dunia maya atau di internet, sehingga masyarakat tertarik untuk membelinya dan memesannya, dan akhirnya melakukan transaksi yang akan mengakibatkan penipuan sehingga transaksi yang sudah dilakukan hilang secara cuma-cuma.
c) Penculikan
Kasus penculikan seperti ini sudah sering terjadi dikalangan remaja ataupun anak-anak yang salah gunakan jejaring sosial, yang pada awalnya hanya untuk berteman ataupun bersosialisasi dengan orang lain, tetapi menjadi kasus penculikan.
d) Pada saat pelajar mulai membuka aplikasi internet, pelajar yang berniat untuk mencari info atau tugas yang dibutuhkan, dan pada saat pelajar telah selesai mencari tugas yang mereka butuhkan, karena media internet sudah canggih dan sudah memiliki banyak jejaring sosial ataupun media hiburan, pelajar dengan mudah mendapatkannya, sehingga waktu luang atau waktu luangnya tidak digunakan untuk hal-hal yang penting, atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan, maupun pengetahuan. Tatapi waktu luang tersebut digunakan untuk melihat situs-situs yang mudah didapatnya. Contohnya: melihat situs-situs pornografi atau situs yang dilarang oleh ajaran agama, ataupun situs-situs yang tidak layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat ataupun para pelajar.
e) Pada saat ini internet memiliki banyak macam jajaring sosial yang sudah dapat di kenal oleh pelajar dan dengan mudah memilikinya, sehingga para pelajar akan lupa waktu karena kesibukan mereka dijejaring sosialnya tersebut. Jejaring sosial yang awal mulanya membantu kita untuk bersosialisasi dengan orang lain, dan dizaman yang sudah modern ini pelajar pun sudah pandai dalam menggunakan ataupun berinteraksi dengan menggunakan media internet ( jejaring sosial ), pelajar atau masyarakat yang telah menggunakan media jejaring sosial akan terlihat jauh atau menjauh dari teman-teman atau masyarakat yang ada disekitarnya, karena mereka lebih cenderung berinteraksi ataupun berkomunikasi dengan teman dunia mayanya.
f) Dan pelajar dalam berinteraksi di jejaring sosialnya, dalam segi pembahasan lebih sering membahas hal-hal diluar pembelajaran sehingga dapat mempengaruhi nilai-nilai prestasinya, karena mereka lupa akan waktu belajar dan menimbulkan rasa malas.
g) Internet menyuguhkan bermacam-macam hiburan yang dirangkai khusus dimedia seperti: Game online, Musik, dan film-film. Hiburan yang seperti itu dapat membuat mereka kecanduan karena keasyikan dari hiburan-hiburan yang menarik dan modern. Hiburan seperti itu bukan tidak boleh untuk dinikmati atau dikonsumsi, hiburan tersebut dapat dikonsumsi hanya untuk penyegaran otak saja, agar tidak terlalu lelah, bukanya menjadikan mereka lupa akan tugas-tugas mereka contohnya: tugas belajar.
Itu adalah beberapa pengaruh internet untuk yang penggunaannya, pengaruh dari segi positif hingga negatif. Tetapi disisi positif internet dapat membantu kita dalam proses pembelajaran dalam memperoleh informasi, karena internet telah menyuguhkan media yang dapat memberikan info yang luas.
Tetapi disisi negatif juga, mereka lebih sering meninggalkan waktu belajarnya, dan tidak memanfaatkan waktu belajarnya dengan baik. Sehingga dapat mengurangi nilai-nilai prestasi mereka, dan menjauhkan mereka dari orang-orang yang ada disekitarnya. Karena mereka lebih cenderung berinteraksi dengan jejaring sosial ataupun teman-teman dunia mayanya, dan dengan mudahnya kejahatan terjadi.
Maka peran orang tua sangat penting dalam mendidik maupun mengawasi perkembangan zaman yang terus menerus semakin berkembang, yang nantinya akan putra/i nya kuasai. Selain itu orang tua mengawai putra/i nya agar terhindar dari hal-hal yang negatif dan dapat mempengaruhi nilai-nilai prestsinya maupun nilai-nilai kepribadianya.

Dikutip:
http://teknologi.kompasiana.com/internet/2012/02/03/pengaruh-internet-untuk-pelajar/
 

Pendidikan Seks di Sekolah, Perlukah?


Pada suatu kesempatan, saya berbincang dengan guru-guru SMA yang mengajar Pendidikan Agama Islam (PAI) di Bondowoso dan Jember Jawa Timur. Mereka mengaku mendapat pekerjaan tambahan. Disamping sebagai guru agama, mereka juga menjadi guru “BP” (Bimbingan dan Penyuluhan) yang menampung “curhat” murid muridnya terkait persoalan yang dihadapi mereka.
Persoalan yang dihadapi murid-murid itu, menurut para guru, terkait masalah pacaran, penggunaan miras, narkoba, hubungan seks di luar nikah, Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) sampai pada masalah aborsi.
Masalah-masalah yang dialami oleh murid-murid di Bondowoso dan Jember ternyata juga dialami oleh temen-temen di sekolah lain. Persoalan yang dihadapi pun relatif tidak beda. Kepala BKKBN Pusat, Sugiri Syarif mengatakan, sebanyak 52% remaja di Kota Medan mengaku pernah berhubungan seks di luar nikah.Data tersebut berdasarkan hasil penelitian survei DKT Indonesia, PKBI, Rakyat Merdeka, Komnas PA dan analisa SKRRI 2002.Selain itu, menurut dia, sebanyak 51% terdapat di Jabotabek, 54% di Surabaya dan juga 47% terdapat di Bandung yang remajanya pernah melakukan hubungan seks pra nikah. (http://www.seksehat.info)
Dengan kondisi persoalan murid di sekolah dan para remaja pada umunya demikin besar, para guru berfikir keras bagaimana menangani persoalan itu. Apa yang perlu diberikan pada para remaja tersebut?
Guru agama memang menjadi pihak yang “tertuduh”. Dianggap tidak mampu memberikan rambu-rambu moral bagi para muridnya. Pendidikan agama yang selama ini diberikan pada para siswa ternyata tidak bisa membendung pergaulan bebas dan hasrat seksual para siswa.
Sebagian guru agama berfikir, banyaknya persoalan yang dialami para siswa atau remaja pada umumnya karena kurangnya pelajaran agama yang diterima. Solusi yang ditawarkannya pun terkait dengan pelajaran agama yaitu penambahan pelajaran agama dari dua jam seminggu menjadi empat jam. Solusi ini sepintas tampak simpatik. Tetapi memang perlu dikaji lebih jauh lagi apa itu yang dibutuhkan para siswa atau remaja secara umum? Pendidikan agama yang terjadi dikebanyakan sekolah-sekolah umum yang cenderung formalistik dan mengarah radikal seringkali menjadi persoalan lain yang harus dihadapi ketimbang menjadi solusi.
Solusi lain yang ditawarkan adalah pendidikan seks di sekolah. Tawaran ini pun mendapat respon dengan nada kekhawatiran. “Pendidikan seks di sekolah dikhawatirkan semakin memperlancar seks bebas pada siswa” demikian keluh seorang guru. Menurutnya “siswa termotivasi untuk mempraktikkan apa yang sudah diketahuinya”.
Perdebatan pendidikan seks di sekolah masih terus berlangsung. - Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh menyatakan, tidak setuju dengan keinginan sejumlah pihak agar diberikan pendidikan seks di sekolah kepada murid.
“Saya mungkin sebagai orang yang kuno. Tapi saya melihat bahwa pendidikan seks di sekolah tidak perlu.” Lebih lanjut Mohammad Nuh mengatakan “Soal seks setiap masyarakat tentunya akan memiliki pengetahuan secara alamiah tanpa harus ada yang mengajarkan. Jadi saya tidak setuju dengan keinginan pendidikan seks di sekolah,” katanya. (ANTARA News, 09 Juni 2010).
Saya sendiri berfikir, pendidikan seks di sekolah tidak hanya perlu tetapi mendesak diadakan. Selain terkait dengan persoalan-persoalan yang dialami remaja saat ini, pendidikan seks di sekolah juga penting karena berbagai alasan.
Pertama, pemahaman tentang seks dan seksualitas perlu menjadi dasar pengetahuan bagi para remaja. Seks tidak hanya dipahami sebagai prilaku seksual saja tetapi menjadi pengetahuan yang menyeluruh menyangkut kesehatan reproduksi, norma-norma dan tanggungjawab sosial.
Kedua, teknologi informasi berjalan sangat cepat. Informasi terkait prornografi dan seksualitas tersaji dengan terbuka. Dibutuhkan pengetahuan yang memadai untuk bisa menyaring membludaknya informasi. Sehingga menjadi tahu mana informasi yang berguna mana yang tidak.
Ketiga, pendidikan seks yang benar pada remaja diharapkan dapat menekan kasus-kasus Kekerasan Dalam Pacaran (KDP), pernikahan dini, Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), aborsi tidak aman dan kasus-kasus kesehatan reproduksi lainnya.
Keempat, pendidikan seks di sekolah juga diharapkan para remaja semakin mengenal tubuhnya dan tahu cara merawatnya.
Penggabungan pemecahan masalah dengan pendekatan agama yang mementingkan kesadaran kemanusiaan dan ketuhanan dan pendidikan seks yang memberikan informasi yang benar di sekolah diharapkan dapat mengurangi persoalan-persoalan kesehatan reproduksi remaja di sekolah.
Upaya-upaya ini tentu tidak akan berhasil maksimal tanpa dukungan dan peran orang tua serta masyarakat dalam memberikan pendidikan pada remaja dengan memberikan contoh yang baik.
Dikutip: